<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524</id><updated>2011-10-24T22:15:11.852-07:00</updated><category term='Lembar Lembayung'/><category term='Awan Gemawan'/><category term='Dongeng Senja'/><category term='Sowan Sesepuh'/><category term='Historia Senjakala'/><category term='Obrolan Sore'/><category term='Sajak Jingga'/><category term='Seduhan Penutup'/><title type='text'>buletin sastra</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>58</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-4849428707700142650</id><published>2010-02-18T02:29:00.001-08:00</published><updated>2010-02-18T02:29:36.867-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seduhan Penutup'/><title type='text'>Forum Tuhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;Hari ini sebagai bakti terhadap nusa dan bangsa.  Dalam rangka memperingati hari “Sumpah Pemuda,” para ilmuwan Nusantara yang tergabung dalam Aliansi Orang-orang Besar Berjas Berdasi (ALOBERSI) hendak menggelar seminar nasional yang mengundang khusus Presiden dan wakilnya, serta segenap jajaran kabinet untuk menghadiri. Bahkan direncanakan hendak mengundang seluruh komponen yang menduduki ruang Suprastruktur di negeri ini. Karena seminar ini merupakan forum tinggi dan terhormat, maka diberlakukan aturan bagi peserta yang hendak mengikuti acara ini. Dalam undangan ditulis jelas, sebuah peringatan agar tamu undangan mengenakan pakaian necis dan rapih. Ditulislah peringatan itu layaknya peringatan pemerintah tentang bahaya merokok yang terdapat pada tiap kemasan rokok. Lantas Mat Sastro. Ia diundang sebagai pembicara utama. Kiprahnya mendunia. Saat menghadiri seminar tersebut mat Sastro justru mengenakan sandal jepit. Ia ditahan oleh penerima tamu. “Maaf Pak, tolong tunjukkan undangan resmi.” Ia keluarkan sesuatu dari tasnya. Penerima tamu terkejut. Ternyata orang ini adalah Mat Sastro, pembicara utama seminar ini. “Tapi yang boleh masuk ruangan ini hanya yang berpakaian rapih Pak!”. Mat Sastro melepas sandalnya, dan masuk ruangan tanpa mengenakan alas kaki. “Aku hargai forum ini dengan melepas alas kaki, seperti ketika aku memasuki mesjid hendak menghadap Tuhan.” Penerima tamu tak kuasa menahan. Malah linglung.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-4849428707700142650?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/4849428707700142650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/forum-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4849428707700142650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4849428707700142650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/forum-tuhan.html' title='Forum Tuhan'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3779412013359102253</id><published>2010-02-18T02:26:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T02:28:21.160-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng Senja'/><title type='text'>Rebah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh: Abraham Zakky Zulhazmi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka, aku begundal muda berparas ustadz. Menghamili pacarku di usia empat belas tahun. Punya anak setahun kemudian. Selanjutnya adalah sepi: guru-guru memandangku dengan tatapan hina dan bibirnya seolah mencibir. Teman-teman satu persatu berlepasan. Para tetangga sama berbisik di forum-forum rumpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku beda. Setelah pasti pacarku hamil, aku tidak lari! Aku petarung yang siap terbakar setelah menggoda kobar api. Aku pejantan yang menjinakkan angin di puncak menara. Maka aku menyaksikan ibu pacarku menangis tak sudah-sudah mendengar kesaksianku. Untunglah ayahnya tidak ringan tangan menampar atau menghajarku. Hanya saja gelengan kepala tanda penyesalan darinya tak bisa kulupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi hidup yang harus bergulir. Akulah saksi sengal nafas istriku saat melahirkan si jabang bayi. Juga betapa menyayat tangis pertama bayi merah yang musti segera aku azani dan kuberi nama. Bayi yang kini begitu menggemaskan. Banyak yang berujar, mata anakku mewarisi mataku yang menyala sedang hidungnya adalah hidung bangir ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sampailah aku pada musim hujan tahun ini. Lain. Aku merasa ganjil. Setiap kali hujan reda dan tanah menebar wangi yang khas, selalu hadir serupa kerinduan. Rindu kepada tempat-tempat jauh yang tak tergapai. Kepada masa-masa yang hilang. Selepas hujan di sore yang pudar kala itu, aku menyanyi: tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok, dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ma:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka, aku wanita murahan. Memberi keperawanan maha suci kepada sang pacar saat kelas tiga SMP. Aku dibilang telah hancurkan reputasi ayah, mencoreng nama ibu dan keluargaku. Tidak ada sapa dan peluk yang hangat lagi dari teman-teman. Terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hendak dikata jika rembulan telah dijemput pagi. Kuterima sayatan dokter kandungan di perut saat melahirkan anakku. Kualihkan masa muda yang hura-hura untuk mengurus suami serta anakku yang lucu dan gemuk. Membagi waktu antara tugas rumah dan kuliah. Semua-semua kujalani. Dengan lapang. Atas nama penebusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acap kali jika suamiku yang punya mata menyala itu telah tidur serta si kecil lelap sudah, aku biasa pergi ke kebun belakang rumah. Meresapi dingin angin. Menghirupi wangi bebunga di pelataran gelap. Sembari aku melantun kidung: lihat kebunku, penuh dengan bunga, ada yang putih dan ada yang merah, setiap hari kusiram semua, mawar melati semuanya indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ren:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka, aku adalah anak haram.  Dini hari kemarin aku mendengar obrolan kakek dan nenek dari balik tembok kamar. Mereka masih menyesali kenapa ayahku yang bermata nyala dan ibuku yang berhidung bangir itu kalah dalam pertarungan. Tak paham aku pertarungan apa yang mereka maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi ibu guru mengajak murid-murid TK Garuda pergi wisata ke air terjun. Di perjalanan beliau ajarkan sebuah lagu baru. Aku segera hafal dan begitu bersemangat mendendangkannya. Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali, kiri kanan kulihat saja, banyak pohon cemara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis adalah mahasiswa KPI/FDK . Berkecimpung di Tongkrongan Sastra Senjakala dan Komunitas KETIK.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3779412013359102253?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3779412013359102253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/rebah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3779412013359102253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3779412013359102253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/rebah.html' title='Rebah'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-7602602150533041644</id><published>2010-02-18T02:24:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T02:25:39.493-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembar Lembayung'/><title type='text'>Ada Cinta Dalam 'Sekumpulan Surat Kepada Cinta'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh: Amelia Fitriani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta merupakan tema yang jamak diangkat oleh banyak penulis dalam karya-karyanya. Karena banyaknya yang menggunakan tema itu, muncul tantangan tersendiri bagi penulis yang ingin mengangkat tema tersebut. Salah satunya adalah 'mendandani' tulisanya agar tidak membuat pembaca jenuh. Salah satu penulis yang mencoba memoles tema tersebut adalah Eko Sugiarto dalam buku antologi cerpen 'Sekumpulan Surat kepada Cinta'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Buku ini terdiri dari tiga belas cerpen yang sepuluh diantaranya pernah dipublikasikan di berbagai media sebelum dibukukan, tiga diantaranya adalah “Balkon” (Borneonews, 4 Februari 2007), “Maaf, Senja ini Aku Tak mengirim Bunga” (Koran Tempo, !9 Maret 2006), “Perempuan Tanpa Nama” (Padang Ekspress, 15 Oktober 2006), dan tujuh cerpen lainya yang pernah dipublikasikan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugie, panggilan akrab Eko Sugiarto mencoba seinteraktif mungkin memabaurkan pembaca untuk terlibat emosi dalam tulisanya dengan menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu 'aku' yang digambarkan sebagai seorang lelaki dan menjadikan pembaca sebagai lawan bicaranya, yaitu tokoh 'kamu' yang selalu digambarkan sebagai seorang wanita.  Namun dalam beberap cerpen Ugie memasukkan tokoh 'dia', seperti dalam cerpen 'Balkon'. Sudut pandang orang pertama itu digunakan dalam semua cerpen di buku ini, kecuali cerpen 'kamar 305' yang menggunakan sudut pandang orang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hal yang juga unik dari buku ini adalah, konsistensi Ugie untuk tidak menceritakan secara utuh permasalahan yang terjadi dalam tiap cerpenya. Ia bisa dibilang hanya memberikan fragmen utama dari cerita tersebut, sedangkan fragmen pendukung yang sebenarnya juga penting, dihilangkan. Fragmen yang sering dihilangkan itu adalah fragmen sebab atau alasan yang melatarbelakangi seorang tokoh mampu melakukan suatu hal yang mengejutkan pembaca. Seperti misalnya dalam cerpen 'Dering Telepon Setelah Bedug Lohor' yang menghilangkan fragmen alasan mengapa tokoh 'kamu' memutuskan untuk menceraikan tokoh 'aku', atau cerpen 'kamar 305' yang kehilangan alasan mengapa tokoh sang istri tega membunuh suaminya yang sakit. Sehingga pembaca dibuat menerka-nerka untuk melengkapi sendiri puzzle fragmen yang hilang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca cerita-cerita dalam buku ini sama halnya seperti kita membaca surat. Ada cerita yang dikomunikasikan secara tidak langsung dan ada interaksi yang dibuatnya. Hal itu bisa jadi merupakan alasan mengapa buku ini berjudul 'Sekumpulan Surat kepada Cinta'. Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang ingin meneguk cerita cinta tanpa terkotakkan usia, gender, ataupun profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peresensi adalah mahasiswi HI/FISIP. Aktif di Tongkrongan Sastra SENJAKALA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-7602602150533041644?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/7602602150533041644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/ada-cinta-dalam-sekumpulan-surat-kepada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7602602150533041644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7602602150533041644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/ada-cinta-dalam-sekumpulan-surat-kepada.html' title='Ada Cinta Dalam &apos;Sekumpulan Surat Kepada Cinta&apos;'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-7156706107954284962</id><published>2010-02-18T02:22:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T02:24:01.885-08:00</updated><title type='text'>Menguak Makna Kehidupan: Telaah Puisi Kenyot Adisattva</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh: Dedik Priyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyair muda UIN Jakarta, Kenyot Adisatva, hadir dengan dua sajaknya  pada lembaran Teh Hangat kali ini. Pada sajak pertama misalnya, berjudul cukup menantang “Di Ranjang” kita diajak untuk berpikir dan menelaah “adegan” dari pena dan kertas. Yang kalau kita lihat secara kasat mata akan terjadinya “persenggamaan” antara keduanya. Saya lebih memaknai kata ini sebagai miniatur kehidupan yang akan terus menerus berproses menghasilkan sesuatu yang baru. Ditambah dengan sajak ini yang ditujukan kepada para penyair (As-Syuara'). Lantas apa kaitan antar kata-kata itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di sini, penyair menulis  Kita buat anak sebanyak-banyaknya/Kelak menjadi guru-guru kehidupan dikaitkan dengan Ya, karena birahimu/  Aku lahirkan dewa-dewa /Namun tempo hari /Hanyalah dewa pembuat bencana/Lantas dewa apa esok hari? Kalau dianalisis ada hal yang distingtif antara kalimat guru kehidupan dan pembuat bencana. Lebih-lebih berdasarkan keadaan sosio-demografis negeri ini terutama pasca '98. Laiknya cendawan di musim hujan kita akan menemukan bermunculanya para penyair baru dengan segala ciri khasnya. Dan yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana kontribusi mereka bagi kehidupan? Ataukah hanya penyair dengan puisi tanpa makna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair mencoba mengkritik itu. Posisi seorang penyair bisa disejajarkan dengan Raja. Sedang dalam mitologi Jawa seorang Raja adalah penjelmaan dewa di dunia yang mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan. Penyair di Indonesia akhir-akhir ini tidak mempunyai ruang untuk itu. Bisa jadi diakibatkan karena semakin kurangnya makna yang tersembul dibalik sajak-sajak yang ada. Berbeda kalau kita lihat pada sosok Chairil Anwar, Rendra atau bahkan Wiji Thukul. Tepatlah jika penyair melukiskan itu dengan kalimat Tanpa tau bakal melahirkan apa/Selain puisi-puisi tak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajak kedua, penyair mengangkat tokoh wayang Adhaninggar. Hemat saya, bangsa kita membutuhkan sosok seperti Adhaninggar, yang dengan segala kearifan dan kebaikan budinya mampu membuat hati manusia menjadi tenteram dan damai Kau datang tiba-tiba/Di tengah gejolak perseteruan doa/Kelak hadirmu dalam harapan/Kami bertumpu. Berbeda halnya dengan  masa Daud atau Sulaiman memimpin seperti apa yang dilukiskan penyair Kau diutus dengan perkara/Bak soal-soal ujian/Tanpa pilihan berganda diteruskan dengan kalimat Kami tlah tuntas menjawab soa-soa/lYang kau bawa/Sudahkah kau temu sayapmu/Sesampaimu di surga?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, surga itulah tujuan kehidupan pada manusia. Menurut Farabi surga itu dapat dibuat di dunia sendiri dengan segala daya yang telah dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Itu yang coba dikuak penyair muda ini lewat penjelmaan Adhinanggar di dunia sebagai jawaban atas keresahan manusia. Sekali lagi, sajak-sajak penyair muda asal Boyolali ini patut untuk diapresiasi terutama melihat dekadensi kondisi sosial rakyat Indonesia kini. Wallahu wa Kenyot Adisattva a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penikmat Sastra. Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta aktif di  Piramida Circle dan FLP Ciputat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-7156706107954284962?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/7156706107954284962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/menguak-makna-kehidupan-telaah-puisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7156706107954284962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7156706107954284962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/menguak-makna-kehidupan-telaah-puisi.html' title='Menguak Makna Kehidupan: Telaah Puisi Kenyot Adisattva'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-1156516611434670781</id><published>2010-02-18T02:21:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T02:22:31.088-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Sajak-Sajak Kenyot Adisattva</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di Ranjang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada:&lt;br /&gt;__As-Syu'ara'; yattabi'uhumul ghawun__&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ranjang tanpa alas&lt;br /&gt;Pena hendak menodai kertas&lt;br /&gt;Kertas bertanya:&lt;br /&gt;  Apa yang bakal terlahir&lt;br /&gt;  Jika aku harus pasrah&lt;br /&gt;  Atas persenggamaan yang kau pinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pena menjawab:&lt;br /&gt;  Kita buat anak sebanyak-banyaknya&lt;br /&gt;  Kelak menjadi guru-guru kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas:&lt;br /&gt;  Ya, karena birahimu&lt;br /&gt;  Aku lahirkan dewa-dewa&lt;br /&gt;  Namun tempo hari&lt;br /&gt;  Hanyalah dewa pembuat bencana&lt;br /&gt;  Lantas dewa apa esok hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pena tak mau banyak cakap lagi&lt;br /&gt;Otot-otot tegang tak tertahan&lt;br /&gt;Sampai di ubun-ubun,&lt;br /&gt;Tinta nafsu mencapai ujung tanduk:&lt;br /&gt;  Sudahlah!&lt;br /&gt;  Apapun yang terlahir&lt;br /&gt;  Aku harus segera menyetubuhimu&lt;br /&gt;  Daripada nanti tertumpah sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awwgggh…egkh…hmmmh…&lt;br /&gt;Mereka bersenggama&lt;br /&gt;Menggelinjang dahsyat&lt;br /&gt;Merintih-rintih&lt;br /&gt;Tanpa tau bakal melahirkan apa&lt;br /&gt;Selain puisi-puisi tak berguna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat:2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adhaninggar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adhaninggar oh,&lt;br /&gt;Hey adhaninggar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah nama&lt;br /&gt;Penyulut rasa haru&lt;br /&gt;Darah melilit tubuh&lt;br /&gt;Nafas turut mengiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau datang tiba-tiba&lt;br /&gt;Di tengah gejolak perseteruan doa&lt;br /&gt;Kelak hadirmu dalam harapan&lt;br /&gt;        Kami bertumpu&lt;br /&gt;Adalah kelahiran Sulaiman&lt;br /&gt;Bagi Daud sang raja&lt;br /&gt;Dan lain Tuanmu punya kehendak&lt;br /&gt;Kau diutus dengan perkara&lt;br /&gt;Bak soal-soal ujian&lt;br /&gt;Tanpa pilihan berganda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adhaninggar&lt;br /&gt;Sebuah nama yang memaksa bumi berteriak&lt;br /&gt;Hingga langit turut gemetar dibuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak!&lt;br /&gt;Kami tlah tuntas menjawab soa-soal&lt;br /&gt;Yang kau bawa&lt;br /&gt;Sudahkah kau temu sayapmu&lt;br /&gt;Sesampaimu di surga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shallahu 'ala Thaha&lt;br /&gt;Wa shallallahu 'ala Yasin&lt;br /&gt;Allahumma sholli 'ala Nabiyyikal Musthafa&lt;br /&gt;Shalatan daiman abadan&lt;br /&gt;Wa ila ruhi “Lintang Alawiyah”&lt;br /&gt;laha Al Fatihah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat:2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-1156516611434670781?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/1156516611434670781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/sajak-sajak-kenyot-adisattva.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/1156516611434670781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/1156516611434670781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/sajak-sajak-kenyot-adisattva.html' title='Sajak-Sajak Kenyot Adisattva'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-5840234971334752748</id><published>2010-02-18T02:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T02:21:01.058-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obrolan Sore'/><title type='text'>Quo Vadis Perang Sastra boemipoetra vs TUK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh: Arief Mahmudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menarik untuk membincang “perang sastra” antara boemipoetra versus lawannya, yaitu Teater Utan Kayu (TUK). Adalah Saut Situmorang (SS), penyair berbadan gempal berambut gimbal yang menjadi “tokoh utama” polemik ini. Lewat sejumlah pernyataannya di berbagai kesempatan (tulisan di jurnal boemipoetra, wawancara, posting-an di situs jejaring sosial facebook, dll), ia gemar menyerang Goenawan Mohamad (GM), penyair-esais senior negeri ini yang juga tokoh TUK, beserta (meminjam bahasa SS sendiri) “segelintir penulis muda yang berlindung di balik bayangannya yang tua”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan SS dan pegiat lainnya di boemipoetra (antara lain Wowok Hesti Prabowo, Kusprihyanto Namma, dan Katrin Bandel) berkisar pada masalah tuduhan hegemoni sastra Indonesia oleh TUK. Terlibatnya para pegiat TUK di balik meja redaksi sastra beberapa surat kabar nasional, seperti Hasif Amini (redaktur puisi harian Kompas) dan Nirwan Dewanto (redaktur sastra Koran Tempo) dikritik habis-habisan oleh SS dan kelompoknya. Keterlibatan mereka dianggap SS hanya menciptakan tafsir tunggal tentang sastra Indonesia, yakni bahwa sebuah karya barulah dianggap “nyastra” setelah mendapat tempat di dua surat kabar bergengsi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menjadi sasaran kritik boemipoetra terhadap TUK sesungguhnya masih sangat banyak. Antara lain, tentang hegemoni TUK di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan pencibiran DKJ sebagai komunitas yang mandul, hingga tudingan Komunitas Utan Kayu (induk dari TUK) sebagai agen imperialis asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sang lawan hanya menanggapi dingin. Dalam wawancara Rizka Maulana dengan GM, tersirat kesan bahwa ia menanggapi santai berbagai tuduhan boemipoetra. Ia menganggap para penulis di jurnal boemipoetra sebagai “anak-anak yang mencorat-coret di kakus, sehingga tak perlu ditanggapi secara serius.” Pegiat lainnya, Sitok Srengenge, saat dimintai komentar mengaku sedang sibuk sehingga tak punya waktu untuk menjawab polemik menarik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang awam yang berada di luar dua “kubu” ini, saya berharap agar perang sastra antara boemipoetra dengan TUK dapat berlangsung dengan lebih menarik, dan dapat memberi manfaat bagi kemajuan sastra dan kebudayaan negeri ini, seperti yang pernah terjadi pada era Polemik Kebudayaan di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis aktif di Tongkrongan Sastra Senjakala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-5840234971334752748?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/5840234971334752748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/quo-vadis-perang-sastra-boemipoetra-vs.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5840234971334752748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5840234971334752748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/quo-vadis-perang-sastra-boemipoetra-vs.html' title='Quo Vadis Perang Sastra boemipoetra vs TUK'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-2132752124696492532</id><published>2010-02-18T02:18:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T02:19:25.976-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seduhan Penutup'/><title type='text'>Kain Tipis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;Satu peristiwa. Malam pertama Mat Sastro dinyatakan sah “beristri”. Dalam tengah berdekapan, tiba-tiba istrinya turun ranjang. Lama tak kembali. Gelisah. Mat Sastro coba cari. Ia dapati istrinya pucat-emosi di antara pakaian-pakaian berserak di muka sebuah lemari. Diboponglah kembali ke ranjang. Sang istri tak lagi bernada. Diam. Satu-satunya aksi yang membuatnya kembali bersuara adalah setelah Mat Sastro mencubit bibirnya dengan bibir juga. “Sungguh saya ingin membuat Abang suka malam ini. Tapi kain tipis yang saya janjikan itu tak ketemu.” Mat Sastro tersenyum, “Apa karena tak ketemu lalu kau lupa tujuan pokok? Aku justru jadi tak suka karena cemberut wajahmu. Baik juga kau cari cara yang buat aku suka tanpa itu. Lebih penting bukan?” Setelah sang istri anggukkan kepala akhirnya terjadi percintaan juga. “Hmm…” Mat Sastro senyumsenyum sendiri mengingat peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-2132752124696492532?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/2132752124696492532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/kain-tipis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2132752124696492532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2132752124696492532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/kain-tipis.html' title='Kain Tipis'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-7951598035798378160</id><published>2010-02-18T02:10:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T02:17:48.941-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembar Lembayung'/><title type='text'>Kematian Cerpen Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh: Dedik Priyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009&lt;br /&gt;Penulis: Triyanto Triwikomo (ed.)&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia&lt;br /&gt;Cetakan: I, 2009&lt;br /&gt;Halaman: iii + 176 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian adalah sosok paling menakutkan bagi manusia. Dan mau tak mau semua yang bernyawa akan berhadapan dengan hal ini; aku, kamu dan jiwa-jiwa yang akan bertemu denganNya melalui perantara kematian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia sastra -khususnya cerpen- meminjam istilah Hamsad Rangkuti, adalah cerminan dunia nyata. Maka apakah ini merupakan kematian kita; manusia, yang digambarkan melalui narasi yang disebut “cerita pendek”. Itulah yang coba penulis kuak melalui buku 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009 ini. Buku tersebut merupakan representasi cerpen-cerpen terbaik Indonesia yang berserakan di pelbagai media massa rentang 2008-2009. Diseleksi oleh sastrawan nomor wahid semisal Sapardi Joko Damono, Budi Dharma, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian cerpen yang ada, paling tidak ada emapat cerpen disini yang mengeksplorasi kematian sebagai ide dasarnya. Yaitu Cincin Kawin (Danarto), Lembah Kematian Ibu (Triyanto Triwikromo), Hari Ketika Kau Mati (Stefanny Irawan) dan Kamar Bunuh Diri (Zaim Rofiqi). Tema ini sering kali dieksplorasi dengan ciamik oleh Hudan Hidayat dalam cerpen-cerpennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danarto misalanya, ia mencoba mengupas sisi gelap masa orde baru. Suatu masa dengan intensitas pembunuhan serta penculikan yang tinggi. Terjadi manakala berbeda persepsi dengan pemerintah. Potret kemiskinan menjadi spektrum yang kentara mewarnai cerpen Danarto ini. Khususnya ketika sang ibu menemukan potongan-potongan jemari suaminya dalam perut ikan yang ia beli dengan harga sangat murah. Karena tidak mampu beli yang lainnya, melalui penanda cincin perkawinan yang masih melingkar di jari suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hingga tak lama Ibu pun meninggal dunia.&lt;br /&gt;Lain halnya dengan apa yang dituturkan Zaim Rofiqi dan Stefanni Irawan. Mereka mencoba mengkontekstualisasikan fenomena yang akhir-akhir ini marak di negeri ini, yakni bunuh diri. Dua kisah ini menggambarkan suasana destruktif kekecewaan manusia atas keadaan yang ada dan berusaha mengakhirinya. Meminjam istilah Freud, bahwa dalam alam bawah sadar manusia terdapat dua kekuatan yang saling bertentangan. Yaitu dorongan bertahan hidup (eros) dan dorongan menuju kematian (thanatos) pada dirinya.  Dua cerita ini seolah menggambarkan kekalahan jiwa rasional manusia menghadapi dunia realita yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sedikit simplistic jika hanya berbicara tentang kematian melalui dunia cerpen. Namun, paling tidak buku ini mampu menggugah hati kita sebagai manusia. Bahwa hidup ini tidak akan pernah lepas dari kematian. Entah itu kita menolak kedatangannya kelak, atau bahkan menjemputnya dengan tangan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis adalah penikmat sastra. Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta. Aktif di FLP Ciputat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-7951598035798378160?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/7951598035798378160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/kematian-cerpen-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7951598035798378160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7951598035798378160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/kematian-cerpen-indonesia.html' title='Kematian Cerpen Indonesia'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-4332555437877839781</id><published>2010-02-18T01:52:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T01:53:44.674-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Sajak-Sajak Corrie Sunna</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesengajaan Kekasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah kesengajaan, Kau pernah menginginkanku. Berjanji merindu darah, serta menyapa dengan selembar sajak Sri Rama. Di setiap detik yang Aku mau, juga Kau. Ketika itu bunga-bunga kuncup mulai meliuk meminta warnamu. Lambai nyiur merayap, merawat episode-episode dalam Legenda Samudera Masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah kesengajaan, Kau selalu bercerita tentang Arlojimu yang terus berdetak, melingkar di tangan penantian, mencari waktu pemberhentian.”Kapan???” kadang Kau tertawa kecil saat ku jawab “Tahun depan…”. Kau bosan karena keadaan sama saja hingga tak bisa Kau hitung lagi, kali keberapa tanya itu bermuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebuah kesengajaan, Kau setia di sana, tiada kehilangan apa-apa. Kecipak jarimu saat memukul air, menjemput kutuk. Entah kepada siapa. Kiranya Kau tak masuk ke ceruk gua. Tentu kan Kau dengar cericit burung menemani pagi sunyi. Nampaknya Kau pun tak mau tahu kesengajaan-kesengajaanmu lagi atau malah Kau sedang beringsut perlahan. Diam-diam Aku berjanji akan mengulang kesengajaan-kesengajaanmu yang lucu itu. Sebagai kesengajaan Kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yogja,180609)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akan Kumulai Lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ku mulai lagi. Demam Amor, dalam mangkuk hangatmu. Berselang-selang sua, berdua saja. Ketinggalan malam pun tak apa. Asal kenyang Aku di ranahmu. Hajat sangat berkantung perih. Lambung malu kian memuji-muji. Memang, bukan Aku yang memesan fajar. Sedang mata dadumu terus berputar. Memalingkan matahari gusar. Sekiranya bumi dan langit bertengkar. Tetap akan ku mulai lagi, Sayang. Akan ku mulai lagi, seteguk madu selir…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yogja,180609)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis aktif di Tongkrongan Sastra Senjakala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-4332555437877839781?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/4332555437877839781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/sajak-sajak-corrie-sunna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4332555437877839781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4332555437877839781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/sajak-sajak-corrie-sunna.html' title='Sajak-Sajak Corrie Sunna'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-9104669169777249241</id><published>2010-02-18T01:49:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T01:51:11.188-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sowan Sesepuh'/><title type='text'>Sastra Wangi, Wangi Sastra</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;Dalam sebuah diskusi di situs jejaring sosial facebook Amelia Fitriani dari Teh Hangat membincangkan perihal sastrawangi dengan TTO (begitu ia meminta namanya disebut). Boleh jadi polemik sastrawangi sudah usang adanya, tapi tak ada salahnya mengangkat wacana itu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AF: Apa sebetulnya sastrawangi itu? Istilah, julukan, genre dalam sastra, atau apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTO: Entah harus diakui atau tidak, pelabelan “sastrawangi” terlanjur “politis”! Sarat kepentingan! Konsekwensinya, SASTRAWANGI boleh dituduh sebagai istilah, julukan, genre secara sekaligus, terintegrasi satu sama lain. Tapi boleh juga membacanya secara semi per kategoris. Yang jelas, tak ada konsensus buat soal ini.&lt;br /&gt;Sebagai istilah dan julukan, banyak sastrawan berjenis kelamin pria yang sensitif gender dan rasis, melihat sastrawangi tak lebih dari sebuah nama untuk segerombolan penulis berkelamin “perempuan” berusia muda dari kelas menengah yang berwajah komersial dan bertubuh seksi. Ya! Ironis memang, sastrawangi dianggap tak lebih dari nama sebuah kelompok/komunitas sastrawati.&lt;br /&gt;Kata sastrawangi ini mula-mula populer di kalangan sastrawan laki-laki yang doyan menggosip. Memang, tak teridentifikasi siapa yang pertama kali menggunakan kata ini, sebab sebelum menjadi polemik (baca: gosip tertulis, hehehe), kata ini digunakan sebagai kritik (baca: ledek-ledekan) secara lisan dalam komunitas sastra&lt;br /&gt;Sedikit berbeda dengan sastrawangi sebagai istilah atau julukan, sebagai genre, menurut keterangan Manneke Budiman, sebutan sastrawangi, selain dituduh buat mendulang popularitas bagi para penulis muda perempuan, juga dituding ingin menyemburkan sekaligus mengoptimalkan nuansa feminisme + variannya dalam sastra. Kenyataan demikian ditandai dengan gaya penulisan anti-konvensional dan anti-logosentris—memiliki tendensi “semi-pop”—, dinilai ambisius buat mendobrak dominasi budaya patriarki. Tapi sayangnya alat dobrak itu mengedepankan Seksualitas tok. Ya! Penulis perempuan muda pada masa itu terlanjur dituding telah mereduksi bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki dengan terlalu banyak berputar-putar dalam tema Seksualitas! Mereka kurang melirik tema lain untuk mendobrak budaya patriarki! Jadi sastrawangi sebagai genre, bisa dibilang jenis sastra yang membeberkan diskursus seksualitas perempuan secara ”vulgar” dalam bingkai budaya patriarki…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AF: Sedikit yang saya ketahui, sastawangi muncul pada awal 2000an dengan munculnya penulis wanita seperti Ayu Utami dengan ‘Saman’nya, lalu kemudian merujuk pada penulis wanita yang tulisannya bisa dikatakan menggunakan bahasa yang ‘telanjang’ untuk menceritakan hal-hal sensitif seperti seks, seperti Djaenar, Dee, Fira Basuki, Rieke Dyah Pitaloka, dll. Lantas, apakah benar sastrawangi teridentikan dengan tulisan kaum wanita yang bernafaskan ‘kevulgaran’? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTO: Bisa dibilang begitu, dan memang ada tendensi ke sana. Tapi sebenarnya tolak ukur sebuah karya vulgar atau tidak sama sekali tidak jelas! Lebih jauh pelebelan Sastrawangi yang kerap diidentikan dengan karya vulgar mirip stensilan, buat saya, membawa implikasi negatif bagi sastrawati lain yang tak mengusung tema seksualitas (juga bagi sastrawati yang menulis dengan tema itu tapi tidak dengan vulgar), meskipun mereka sama-sama ingin mendobrak budaya patriarki.&lt;br /&gt;Kita tahu pada periode itu, tahun 2000-an, asalkan sebuah karya dengan berani melukiskan tubuh dan seksualitas perempuan, karya itu langsung dipuji-puji sebagai cermin “perlawanan perempuan terhadap dominasi laki-laki”. Akibatnya penulis perempuan yang tidak menulis dengan tema ini dan gaya vulgar dituding tidak kritis terhadap patriarki, dengan demikian karya mereka seolah tak pantas dibaca oleh perempuan. Buat saya, ini tak lain dari sebentuk hegemoni dan monopoli! Bukankah dunia perempuan tidak sesempit wilayah seksualitasnya saja?&lt;br /&gt;Pada titik inilah sastrawangi sebagai “komunitas” penulis perempuan yang menulis dengan tema seksualitas secara tak langsung menindas komunitas Non-Sastrawangi yang sama-sama perempuan juga. Alih-alih Sastrawangi ingin mendobrak budaya patriarki, mereka malah semakin menegaskan budaya patriarki dengan menindas saudaranya sendiri. Ya! Perempuan sastrawangi menindas perempuan non-sastrawangi dengan cara patriarkis! Pendapat saya ini senada dengan pendapat Nukila Amal, dan diperkuat juga oleh keterangan dari Linda Cristanty, Medy Loekito, Helvy Tiana Rosa, dan Bungarumputliar: Korban-korban malang yang dituding sok “moralis” oleh penulis perempuan yang diuntungkan dengan pelabelan sastrawangi???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AF: Dalam tulisan-tulisan di internet (pada tulisan pihak yang kontra dengan sastrawangi) saya melihat ada pemojokan yang seolah mengatakan bahawa “sastrawangi itu salah”. Pertanyaan saya, apakah dalam sastra harus ada kata ‘Benar’ dan ‘Salah’? jika iya, sastrawangi ada di pihak mana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTO: Benar dan salah dalam sastra, jelas harus ada. Sebab benar dan salah, hitam dan putih, adalah bentuk pernyataan sikap. Tapi masalahnya, benar secara apa? Secara moral, teologis, politis, filosofis, ideologis? Otoritas siapa atau apakah yang berhak menentukan benar-salah? Ah, sepertinya butuh diskusi dan renungan intensif buat menjawab pertanyaan ini? Lepas dari hal ini, konon katanya sastrawati/n baik harus punya sikap! Tapi buat saya, sikap ini lebih sikap impresif saja, bukan sikap ekspresif, sebab sikap yang ekspresif sering kali jatuh ke dalam jurang kemunafikan!&lt;br /&gt;Mel, asal kau tahu, saya juga masih bingung menjawab pertannyaan ini. Entah justifikasi model apa yang membuat Sastrawangi seolah tampak terpojok, kemudian pihak yang kontra menuding mereka salah? Tapi saya cenderung berasumsi, bahwa mereka yang menuding Sastrawangi salah, lebih mendasarkan argumentasinya pada justifikasi moral. Memang, penilaian seperti ini membawa konseksensi filosofis cukup berat. Mau tak mau kita bertanya, apakah moral? Bagaimana bermoral? Seperti apa standarisasisnya dalam sastra? Padahal argumentasi mereka yang menuding sastrawangi salah secara moral itu, hanya didasarkan atas pengamatan pada tataran tematik teks sastra, dan eksplorasi bahasa yang intens pada tingkat stilistika.&lt;br /&gt;Terus terang Mel, saya tak mau ikut-ikutan menjustifikasi sastrawangi dengan justifikasi moral, saya tak mau menilai mereka secara hitam-putih; lagi pula saya menolak bahwa otoritas menentukan benar-salah ada di tangan manusia, dan akan sangat bodoh kalau saya melakukan justifikasi sejenis itu. Saya justru lebih tertarik melihat Sastrawangi sebagai KORBAN dari formasi diskursif konstruksi pengetahuan dan ideologi “sekular”, terutama feminisme dan variannya, yang berdiaspora begitu cepat pasca 1998, meski tak berimbang dengan daya kritis kognisi sosial pada masa itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AF: Sejauh yang Anda ketahui, bagaima reaksi para sastrawan yang disebut sebagai penulis sastrawangi tersebut? Menerima? Berontak? Atau bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTO: Sangat Variatif. Ada yang santai-santai saja, seperti Linda Christanty, meski ia “agak eberatan” juga dengan lebel ini, sebab katanya, istilah sastrawangi sarat konotasi negatif.&lt;br /&gt;Selain Linda, ada juga yang senang, dan diam-diam merasa diuntungkan meskipun malu mengakuinya, seperti Djenar Mesa Ayu dan Fira Basuki misalnya. Djenar dan Fira dicurigai beberapa penulis perempuan dan juga laki-laki, bahwa ia memperoleh popularitas dari polemik ini, ia dituding bahwa kalau popularitasnya sebagai penulis bukan dihasilkan dari kualitas tulisannya, tetapi terutama dari citra publik yang dibangunnya secara gencar dalam berbagai media.&lt;br /&gt;Berbeda dengan Djenar dan Fira, Nukila Amal adalah penulis yang paling keras menentang pelabelan yang sudah terlanjur jadi polemik ini. Nukila memang tegas dan radikal, ia pernah terang-terangan menolak untuk diwawancarai soal sastrawangi, namun demikan ia pun TERPAKSA berbicara sesuatu soal ini dari posisi yang bersebrangan secara dimetris. Nukila pernah berbicara geram seperti ini, “kenapa penulis itu harus dipersoalkan gendernya!? Apa ada bedanya bila mereka itu laki-laki atau perempuan!? Dapatkah mereka dinilai dari bobot karya-karya yang dihasilkannya ketimbang dari jenis kelamin dan wajah mereka!? Yang jelas bagi Nukila, label Sastrawangi menafikan segala semangat, pencapaian, dan keunggulan yang telah berhasil dibuktikan oleh banyak penulis perempuan pada saat ini; label sastrawangi tak lebih sebutan peyoratif, mereduksi semua pencapaian penulis perempuan ke dalam penampilan fisik dan seksualitas belaka.&lt;br /&gt;Nyaris senada dengan Nukila, Nova Riyanti Yusuf bersikap sinis terhadap fenomena ini. Bagi dia, istilah sastrawangi seolah membuat penulis-penulis perempuan yang dicap dengan lebel ini, seolah-olah tak lebih dari sekumpulan manusia “idiot”. Bagi Nova kata “wangi” punya konotasi negatif dan sengaja ditonjolkan untuk mengompensasikan absensi intelektualitas dalam otak penulis ‘perempuan’….&lt;br /&gt;Ya, kiranya beberapa sastrawati ini cukup menggambarkan bagaimana respons dari pelabelan dan polemik Sastrawangi, meskipun masih banyak lagi yang memberi penilaian yang berbeda dengan mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AF: Yang saya baca juga, tentang kontroversinya, dari pihak yang kontra mengatakan bahwa sastrawangi muncul dari keprihatinan para sastrawan Indonesia atas tulisan-tulisan yang dianggap senonoh namun menggunakan payung sastra. Sepeti Taufik Ismail misalnya, beliau pernah menulis kolom Gerakan Syahwat Merdeka di majalah Gatra, yang merupakan bentuk keprihatinan atas pengumbaran seksualitas perempuan oleh perempuan itu sendiri. Seolah ia ’menjual dirinya sendiri dengan tulisan’. Tapi dari pihak pro seperti di Lampung Post mengatakan bahwa sastrawangi ialah pencanggihan cara mengemas teks sastra. Lantas, Bagaimana tanggapan Anda melihat adanya sastrawangi itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTO: Wah Mel, saya bisa dibilang sudah lama MURTAD dari buntelan kertas bernama SURAT KABAR dan figur sastrawan. Saya cuma tahu soal sastrawangi lewat beberapa jurnal perempuan dan diskusi-diskusi sastra. Dan lagi pula PRO dan KONTRA soal Sastrawangi, buat saya, tak bisa direduksi ke dalam skala individual (Taufik Ismail) atau surat kabar (Lampung Post)? Bukan hanya mereka yang jadi representasi polemik Sastrawangi, tapi juga banyak orang, komunitas, dan berbagai surat kabar, juga jurnal, esai, dsb. Kita harus mendudukan polemik ini dalam ranah kesusastraan Indonesia seluruhnya berdasarkan setiap “teks” yang diproduksi bekenaan dengan polemik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AF: Apa kritik Anda atas adanya penulis-penulis sastrawangi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;TTO: Wah, kalau buat para penulisnya, do’a saja deh: semoga mereka sehat-sehat saja, makin banyak “anak” (baca: karya) binti banyak rezeki. Tapi kalau buat “sebutan sastrawangi”: semoga sebuatan ini mampus secepatnya! Dan para korbannya semoga tak banyak berantem + ngebacot + ngegosip. Menulis saja yang banyak, tak usah mikirin laku apa tidak, bagus atau jelek, persetan kata orang, tak usah tergantung pada penilaian orang lain apalagi pasar; pokoknya menulis saja deh! Bebas-merdeka menulis apa saja, tentu dengan gaya dan cara apa saja. Terserah. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-9104669169777249241?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/9104669169777249241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/sastra-wangi-wangi-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/9104669169777249241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/9104669169777249241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/sastra-wangi-wangi-sastra.html' title='Sastra Wangi, Wangi Sastra'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-952491374362437666</id><published>2010-02-18T01:46:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T01:48:49.427-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obrolan Sore'/><title type='text'>Sastra Santri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh: Moham Fahdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk sekedar melihat realita, dewasa ini banyak sudah macam-macam karya sastra yang terpublikasikan di masyarakat  dan sebagian dari macam, adalah sastra pesantren, bahkan bisa dikatakan karya sastra ini sedang meledak. Tapi, sastra pesantren itu sesungguhnya telah hadir sejak masuknya Islam di Indonesia sekitar abad ke-12 sekaligus merupakan bagian tak terpisahkan dari sastra Indonesia” (Kompas Cyber Media, Rabu, 29 September 2004, www.kompas.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara sastra pesantren, tentu yang terfikirkan pertama kali adalah sastra yang mengekplorasi segala term akan pesantren; pondok, kyai, santri, kitab kuning, ngaji. Yang demikian itu tidahlah hal yang salah, tapi kurang untuk dikatakan benar. Karena sastra pesantren tidaklah hanya mencakup hal-hal diatas yang nantinya cuma menjadikan pesantren sebagai latar, tapi juga mengekplorasi, meminjam istilah Gus Dur, “kejiwaan pesantren”, misalnya cerpen A.A. Navis “Robohnya Surau Kami,” yang menggambarkan fatalisme yang melanda kehidupan beragama, yang merupakan problematika khas pesantren. Walaupun tidak menutup kemungkinan adanya sastra pesantren seperti yang pertama tadi atau bisa dikatakan sebagai sastra pesantren pop. Sebut saja Santri Semelekete (Ma’rifatun Baroroh), Bola-Bola Santri (Shachree M Daroini), Kidung Cinta Puisi Pegon (Pijer Sri Laswiji), Dilarang Jatuh Cinta (S. Tiny), Santri Baru Gede (Zaki Zarung), Salahkah Aku Mencintaimu (Ahmad Fazlur Rosyad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapula beberapa karya sastra pesantren modern yang kadang sering dianggap paradoksal. Yaitu karya yang mungkin bagi sebagian orang bukan merupakan karya “sastra pesantren” tetapi lebih sebagai karya seorang santri. Yaitu karya Ahmad Tohari dengan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya, Geni Jora-nya Abidah El-Khaleiqy atau Kuda Ranjang karya penyair muda Binhad Nurrahmat. Inilah yang menunjukkan bahwa satu persatu mulai terlihat adanya keliaran, muntahan-muntahan kegelisahan untuk merambah ke sisi-sisi lain. Sastra pesantren berada dalam kegelisahan yang panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sepertinya yang menyebabkan ledakan karya sastra tidak lain sebagai pemberontakan terhadap rigiditas dalam menjalankan syari’at, skripturalisme, tekstualisme, otoritarianisme fiqih minded yang terkadang membelenggu kreativitas berbudaya dan ‘buta konteks’. Kesusasteraan pesantren meronta-ronta dalam hasrat yang menggebu untuk senantiasa menghidupkan dan membumikan nilai-nilai estetika sebagai ejawantahan atas prinsip; “Tuhan itu indah dan mencintai keindahan” (Al Hadits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, mau bagaimanpun juga rumusan dari sastra pesantren, adalah hal yang paling penting untuk dikeluarkan bukanlah melulu murni pesantren, harus segala yang berbau pesantren. Tetapi lebih luas dari itu, yakni eksplorasi nilai-nilai yang ditradisikan di pesantren. Bagaimana nilai pesantren tanggap terhadap perubahan zaman, bagaimana pesantren merespon kehidupan yang telah sedemikian mengglobal di luar sana. Toh, sastra sudah semestinya meluas seluas semesta ini dan bukan hanya terkungkung di pesantren an sich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis adalah penikmat sastra, alumni pesantren Raudhatut Thalibien. Mahasiswa FSH/Mu’ammalat/PS UIN Jakarta. Bergiat di Tongkrongan Sastra Senjakala.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-952491374362437666?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/952491374362437666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/sastra-santri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/952491374362437666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/952491374362437666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/sastra-santri.html' title='Sastra Santri'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-7855851527731717519</id><published>2010-02-18T01:42:00.001-08:00</published><updated>2010-02-18T01:45:42.965-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Awan Gemawan'/><title type='text'>Ibu Dalam Cerita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh: Abraham Zakky Zulhazmi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu kerap kali menjadi tema sentral dalam sebuah cerita. Coba tengok dongeng Sangkuriang yang berkisah tentang seorang ibu yang hampir dinikahi anak kandungnya sendiri. Juga -yang paling masyhur- kisah Maling Kundang: cerita klasik seorang anak durhaka yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Pada kisah para nabi pun, sosok ibu tampil sebagai figur yang tangguh dan terkadang heroik. Perhatikan kisah Maryam yang melahirkan Isa tanpa ayah. Betapa kuatnya Maryam menahan terpaan gunjang-gunjing sekitar perihal kelahiran Isa. Simaklah pula keteguhan hati Siti Hajar berlarian Sofa-Marwa demi mencari air untuk Ismail. Atau keputusan dilematis ibu Musa melepas bayi merahnya pada deras aliran sungai Nil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pada Teh Hangat kali ini, cerpen karya Nadd Hafsin berjudul Percayalah membidik tema ibu dan kepercayaan. Pertama-tama, hal menarik yang perlu dicermati adalah bahwasannya cerpen tersebut adalah sebuah ode, cerpen persembahan. Ditujukan untuk orang yang paling aku cintai di dunia ini sekaligus untuk mereka yang tak mau memahami. Tampak kontradiktif memang. Di satu sisi cerpen dipersembahkan untuk orang yang dicintai (dalam konteks ini kemungkinan adalah ibu) namun juga untuk orang yang tidak disukai (yang tak mau memahami keadaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara utuh cerpen Percayalah bercerita tentang seorang perempuan (mahasiswi) yatim yang musti berjuang melawan rumpi ibu-ibu tetangga mengenai ibu yang kabarnya sering keluar malam bersama seorang lelaki. Di mana puncaknya si anak mendengar gunjingan ibu-ibu di warung tak jauh dari rumahnyaa. Cerita ditutup dengan pengakuan ibu yang mengejutkan bahwa ia akan menikah lagi. Ia butuh dukungan moral dari anaknya. Maka lahirlah satu kata: percayalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen tersebut sebenarnya sangat mungkin untuk dieksplorasi lebih lanjut menjadi cerpen panjang yang menarik. Namun, di sinilah keunikan serta tantangan menulis cerpen pada kolom Teh Hangat. Penulis bukan disekat kreatifitasnya ketika harus menulis cerpen 1 halaman, justru kepiawaian penulis untuk mencipta cerpen yang padat diuji di sini. Pada cerpen ini belum terlihat kemampuan Nadd Chafsin mengolah mini-cerpen yang padat. Ketidakpadatan ini misalnya terlihat pada percakapan atau petuah ibunya di akhir cerita yang terkesan bertele-tele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari, penulisan cerpen ala Teh Hangat boleh jadi menjadi suatu genre tersendiri. Apabila muncul cerpen madzhab Kompas atau madzhab Tempo, tidak menutup kemungkinan akan muncul cerpen madzhab Teh Hangat. Kita bisa menyebutnya cerpen satu halaman. Ini bisa menjadi alternatif baru dalam penulisan cerpen. Tak perlu panjang lebar, cukup satu halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada cerpen Nadd Chafsin, pada dasarnya cerpen ini telah mengamini hierarchy of need theory yang dikemukakan Abraham Maslow. Dikatakan bahwa manusia setelah kebutuhan untuk dicintai telah diadapatkan, maka pada tingkatan lebih atas ia memiliki kebutuhan untuk dihargai, untuk dipercayai. Itulah yang coba diejawantahkan dalam sosok ibu pada cerita tersebut. Tiba-tiba timbul satu pertanyaan dalam benak saya: Dapatkah kita terima satu pernyataan, maha benar ibu dengan segala perkataan dan tindakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis aktif di Tongkrongan Sastra Senjakala dan Komunitas Roda Hijau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-7855851527731717519?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/7855851527731717519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/ibu-dalam-cerita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7855851527731717519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7855851527731717519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/ibu-dalam-cerita.html' title='Ibu Dalam Cerita'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-5204665036036756736</id><published>2010-02-18T01:34:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T01:36:20.523-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng Senja'/><title type='text'>Percayalah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;: untuk orang yang paling aku cintai di dunia ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan untuk mereka yang tak mau memahami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh: Nadd Chafsin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Ayah meninggal, aku adalah satu-satunya orang yang selalu ada di sisinya. Bukan hanya sebagai putri semata wayangnya, namun juga sahabatnya.&lt;br /&gt;Ibu bukan wanita lemah. Tak pernah aku melihat air mata mengaliri wajahnya. Hanya saja di sepertiga malam aku sering mendengar isak tangisnya di antara sujud panjang.&lt;br /&gt;Suatu hari, sepulang dari kampus  aku mampir di warung Mbak Mah untuk membeli camilan. Di sana aku melihat Mbak Mah tengah berbincang dengan dua orang ibu yang sepertinya baru pulang dari pasar. Tampaknya mereka tak menyadari keberadaanku.&lt;br /&gt;Aku sibuk memilih camilan. Telingaku menangkap sebuah pembicaraan.&lt;br /&gt;“Ternyata dia sering keluar malam sama bos-bos berdasi,” kata Mbak Mah. Kedua ibu dari pasar itu mengangguk.&lt;br /&gt;“Padahal Bu Haji, tapi kok begitu ya?” ujar ibu yang lain.&lt;br /&gt;Mendengar kata “Bu Haji” aku mempertajam pendengaranku.&lt;br /&gt;“Nggak tau tuh Bu Haji Nunik, yang seperti itu kan, kata Ustadz Bayu, zinah namanya. Tampang boleh alim, tapi hatinya siapa yang tau.”&lt;br /&gt;Tubuhku bergetar mendengar nama itu. Bu Haji Nunik. Nama Ibuku. Tanpa sadar tubuhku goyah dan menjatuhkan toples-toples yang ada di sekitarku. Ketiga orang yang membicarakan ibuku tadi kaget dan menoleh ke arahku yang berdiri kaku dengan wajah yang basah.&lt;br /&gt;Aku berlalu dengan menunduk. Bukannya aku malu. Aku juga tidak takut. Tapi luka yang mereka sayatkan di hatiku, teramat perih.&lt;br /&gt;Aku percaya Ibuku bukanlah seperti perempuan yang tadi mereka ceritakan. Pernah suatu malam Ibu mengajakku bicara di kamar mungil kami.&lt;br /&gt;”Ibu tahu semua yang mereka katakan dan kamu berat menanggung ini.” Ibu memelukku. Aku tak bergeming.&lt;br /&gt;”Kamu marah pada ibu? Maafkan ibu, Nak.”&lt;br /&gt;Perih. Aku mengangguk. Kemudian Ibu menceritakan sebuah rahasia yang selama ini ia simpan sendirian.&lt;br /&gt;”Ibu punya hutang, jumlahnya tidak sedikit. Tidak akan sanggup Ibu membayarnya walaupun Ibu harus bekerja hingga akhir hayat Ibu.”&lt;br /&gt;Aku terperosok jauh ke dalam lubang yang teramat gelap. Hampa.&lt;br /&gt;”Tak perlu kamu pikirkan. Ibu sudah mempunyai pilihan. Ibu tengah menjalin kisah dengan rekan bisnis Ibu. Ibu akan segera menikah dengannya setelah bisnis kami sukses. Dia berjanji akan membantu Ibu dalam menyelesaikan semua masalah Ibu.”&lt;br /&gt;”Aku hempaskan tubuhku dalam dekapan Ibu yang mulai terisak. Aku tak sanggup melihat airmata itu.&lt;br /&gt;”Percaya. Hanya itu yang Ibu butuhkan saat ini. Percayalah.”&lt;br /&gt;Ya. Semua keajaiban akan datang jika kita mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 2009, Dalam Luka&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ibu Dalam Cerita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-5204665036036756736?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/5204665036036756736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/percayalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5204665036036756736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5204665036036756736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2010/02/percayalah.html' title='Percayalah'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-2397717437897881683</id><published>2009-10-11T22:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T22:50:21.011-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembar Lembayung'/><title type='text'>Telimpuh: Kitab Puisi Yang Menawarkan Pembaruan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arief Mahmudi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Judul buku : Telimpuh&lt;br /&gt;Penulis : Hasan Aspahani&lt;br /&gt;Penerbit : Koekoesan&lt;br /&gt;Cetakan : I, Juni 2009&lt;br /&gt;Tebal : 107 + xiii halaman&lt;br /&gt;Harga : Rp. 29.500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Hasan Aspahani (HA) tentu sudah tidak asing bagi para penikmat karya sastra negeri ini. Karya-karyanya, terutama puisi dan cerita pendek, kerap tampil di halaman sastra sejumlah surat kabar nasional maupun daerah. Dan, bagi mereka yang ngêh saat membaca karya-karya HA, tentu akan menangkap “sesuatu” yang membuat karya-karyanya terasa berbeda dengan penulis lainnya. Apakah gerangan “sesuatu” itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesuatu” itu ialah pembaruan. Pembaruan yang dimaksud tidak hanya berkisar pada bentuk dan tema, namun juga pada gaya bertutur. Kita bisa baca, misalnya, pada cerpen “Sejumlah Fiksi Mini” (Koran Tempo, 1 Maret 2009) dan “Bung Badut” (Koran Tempo, 10 Mei 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pada cerpen. Lantas, bagaimana dengan karya puisinya? Adakah pembaruan di sana? Jawabnya: ya. Dalam Telimpuh, yang merupakan buku kumpulan puisi keduanya setelah Orgasmaya (2007), kita dapat menemukan pembaruan-pembaruan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, misalnya, dalam sajak-sajak yang terdapat pada bab kedua, “Kamus Empat Kata”. Sajak-sajak dalam bab ini sangat unik. HA menulis puisi seperti menjelaskan makna yang terkandung dalam entri sebuah kamus saja. Berikut penulis kutipkan bait pertama sebuah sajak berjudul “Kamus Empat Kata Berhuruf Awal T, 2”:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELIMPUH: aku hendak terus bersimpuh, sehingga lumpuh. Sampai sembah ini kau sentuh. “Telah aku lewatkan beribu subuh, telah aku lawatkan duka yang patuh,” seperti zikir, resital syair, jatuh air tangis membulir-bulir. Aku hendak terus bersimpuh, hingga menguap semua peluh, di tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pengetahuan penulis, belum ada penyair sebelumnya yang menulis, meminjam istilah Haris Firdaus, “sajak kamus” seperti yang telah dikutip di atas. Barangkali inilah pembuktian HA sebagaimana yang ia tuturkan pada “Pengantar Penulis” yang terdapat di halaman awal buku ini: “Tetapi, sajak juga sebuah kemudian. (…) Sajak yang kemudian, adalah sajak yang terus-menerus menawarkan pembaruan dan kebaruan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah esais telah memberi komentar terhadap buku ini. Haris Firdaus, sebagaimana yang dimuat pada bagian penutup buku ini, menyebut pembacaan Telimpuh ibarat “menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah”. Adapun Khrisna Pabichara, dalam sebuah esainya di Batam Pos, menyebutnya sebagai “sehimpun sajak yang menciptakan ruang meditasi, tempat kita bisa menegasi rupa-rupa pertanyaan, juga jawaban”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi adalah mahasiswa FITK/PAI/Konsentrasi Pemikiran. Pegiat sastra di Komunitas Sastra SENJAKALA, Ciputat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-2397717437897881683?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/2397717437897881683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/telimpuh-kitab-puisi-yang-menawarkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2397717437897881683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2397717437897881683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/telimpuh-kitab-puisi-yang-menawarkan.html' title='Telimpuh: Kitab Puisi Yang Menawarkan Pembaruan'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-6537132600581991647</id><published>2009-10-11T22:41:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T22:53:17.938-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obrolan Sore'/><title type='text'>Menikmati Sastra</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amelia Fitriani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;Sastra. Apa yang pertama kali muncul di benak anda ketika mendengar kata itu? Kata yang cukup familiar kita dengar dan temui pada pelajaran bahasa Indonesia sejak kita duduk di bangku SD atau SMP. Saya yakin definisi yang keluar dari masing-masing kepala akan berbeda satu dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, sastra merupakan pengikatan pikiran dalam bentuk bahasa. Tidak jarang sastrawan menyembunyikan makna dibalik bahasa-bahasa yang tidak mudah ditafsirkan, lebih-lebih oleh kalangan yang awam dengan satra. Hal itulah yang saya rasa merupakan salah satu faktor mengapa banyak pembaca kurang meminati karya sastra dan menganggapnya membosankan. Bahkan ketika saya duduk dibangku SMA, pada pelajaran Bahasa Indonesia yang membahas mengenai karya-karya sastra , tidak sedikit dari teman-teman kelas saya tidur diam-diam ataupun terlihat ngantuk. Membosankan dan tidak paham, jawab mereka ketika saya tanya mengenai alasan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman bahasa yang sulit dari karya sastra yang terkadang menggunakan bahasa dan alur cerita yang tidak biasa menjadi salah satu 'penyaring' dari peminat sastra itu sendiri. Padahal jika dicerna lebih lembut, karya sastra sesungguhnya merupakan perwujudan kritik maupun penafsiran atas kehidupan dan seluk beluk yang terjadi di dalamnya. Lantas dibungkus dan dikemas sedemikian rupa dengan menggunakan kata. Karya-karya sastra yang lahir dari goresan pena Sutardji Calzoum Bahri, Afrizal Malna, ataupun Djaenar Maesa Ayu merupakan sebagian kecil dari banyak sastrawan yang membangun konstruksi bahasa sedemikian rupa sehingga mampu menyimpan makna di balik bahasa yang tidak mudah untuk dicerna, yang bagi sebagian orang akan terasa membosankan untuk dibaca karena sulit dipahami maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas sebuah pertanyaan muncul di pikiran saya: apakah sebuah karya sastra lahir hanya untuk difahami dan dimaknai?. Lalu bagaimana  bila seseorang tidak dapat memaknai sebuah karya sastra, apakah ia dikatakan gagal untuk menikmati  karya sastra tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan jawabanya dari seorang kawan saya, Kenyot Adisattva. Beliau pernah mengatakan pada saya bahwa “Kita tidak harus selalu memahami sebuah karya sastra. Tapi ketika kita mampu menikmati sebuah karya sastra yang kita baca, itulah sastra sebenarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sastra, ketika orang meraba dan terus meraba makna dari sebuah karya sastra, di situlah keindahanya, tidak peduli ia menemukanya atau tidak. Kata 'nikmat' dan 'menikmati' bagi penikmat sastra ditemukan dalam proses mendapatkan makna tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah mahasiswi semester 3 jurusan HI FEIS UIN Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-6537132600581991647?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/6537132600581991647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/menikmati-sastra.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6537132600581991647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6537132600581991647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/menikmati-sastra.html' title='Menikmati Sastra'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-7412025326574759559</id><published>2009-10-11T19:51:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T19:55:24.545-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>aaaSu ingin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Si Apalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin jadi penyair, tapi malu pada diriku: ketika banyak gedung sekolah ambruk dan sawah-ladang kering, aku malah mengabadikannya dengan tinta yang muncrat dari lobang pulpen. Ya, aku malah sengaja merekam kenyataan itu dengan kata-kata, sekedar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar industri-bahasaku, yang baru memproduksi beberapa ratus ekor puisi-penderitaan-berbulu-penyakit obesitas-informasibasi-stadium lanjut plus virus-susah-buang-air-besar-kronis. Lebih dari itu, di ranjang, aku sering lelap bermimpi: semoga pegadaian murah-hati bernama surat-kabar akan memperkenankan beberapa ekor binatang-ternakku berak-berlari-lari di muka rubrik-seni yang disediakannya sekitar bebrapa sentimeter, tempat di mana cerita-cebol, kawanan-sajak, gerombolan-esai maupun kritik-singkong-busuk, cuma nongkrong tiap hari-minggu sambil mengeluhkan nasibnya yang kejepit lalu mampus terinjak-injak oleh karnaval-korporasi-iklan-paus. Dengan lain kata-atau lebih tepatnya dengan lain kalimat-boros-bersintaksis-sekusut-jembut dan dengan lain paragraf tulalit-berketurunan-pungutasi-sebonyok-borok-, aku sering lupa mengajak kata-kata kabur dari pasungan kertas dan tata-bahasa-beku ke luapan lumpur panas agar berbunyi hantaman-palu tuan-kuli-bangunan atau sabetan-arit paman-buruh-tani; kata-kata yang kuanggap manis dan bijak di pabrik-bahasaku yang diancam bangkrut oleh teenlit seringkali gagal kuterjemahkan sebagai ayunan-sapu-pak-petugas-kebersihan atau kain-pel-bibi-pembantu yang tulus membasuh noda di sekujur markas-besarku. Memang demi tercapainya mimpiku jadi penyaeeeeeeeer, sampai sekarang aku masih rajin memuntah-nyemburkan ribuan battalion-kata-mutiara-montok buat menggempur telingaku yang mahir berpura-pura tuli bin budek binti congek di depan anak jalanan. Dalam markas besarku, dari ujung kaki hingga ujung rambut, setiap huruf pada setiap kata kusiram krim-pemutih dan kuasah hingga jauh lebih bahenol dari alat-reproduksi mitos-kecantikan dan lebih indah dari silet-baja sekaligus jauh lebih seksi dari gigitan ular-kobra maupun aaaaaaaanjing-rabies. Namun, tetap saja rasa-malu pada diriku tak bisa kucincang dan kubantai habis. Kata-kata indah yang saban hari kumuntahkan dan kusemburkan itu goooblok bin idiot, tak becus membetot mulutku yang bawelnya persis infotainment supaya belajar membaca gratis bersama anak-tetangga yang putus sekolah, apalagi menyeret kakiku supaya melangkah bersama pengangguran, bandar-narkoba, rampok dan germo ke lapangan-lapangan yang bebas dari tongseng-bangkai-babi-buntung-rasa-wc-mampet-keselek-buntelan-soptek-popok-gajah-aprika-mandul maupun sop-tai-kebo-saus-air-kencing-kudanil-gosong-blatungan. Bahkan, kata-kataku susah sekali kubentuk sebagai tangan yang membuang sampah pada tempatnya. Kata-kataku persis taburan bulu-ketek-banci-gundul yang nyelip di sela-sela gigi-tonggos pisau-cukur mintul dalam kuburan si binatang juling. Kuimpikan sebagai bahan-baku sajak-cinta yang meneteskan tawa bagi janda-tua-bopeng saja tak bisa, lantas bagaimana munkin dapat kubuktikan sebagai kelebat-pedang yang memberantas kebodohan sekaligus menyunat leher koruptor atau menggorok-gorok lilitan rantai-kemiskinan dari pemerint&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-7412025326574759559?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/7412025326574759559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/aaasu-ingin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7412025326574759559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7412025326574759559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/aaasu-ingin.html' title='aaaSu ingin'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-1854900754467246156</id><published>2009-10-11T19:49:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T19:51:33.459-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng Senja'/><title type='text'>Tepi Api</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dedik Priyanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau datang ke tempat ini. Maka yang kau temukan adalah tumpukan sampah. Sampah dan sampah. Anyir memang. Tapi itulah kenyataan yang harus diterima tempat ini.&lt;br /&gt;“Pak, mengapa sih kita harus pindah ke tempat ini?” tanya seorang anak kepada bapaknya.&lt;br /&gt;“Tempat ini sangat kotor. Banyak pemulung, banyak lalatnya.” lanjut anak itu seraya menunjuk ke arah kerumunan orang yang  mengais-ngais tumpukan sampah yang baru saja diturunkan dari truk besar.&lt;br /&gt;Sambil meneteskan air mata. Orang tua itu berkata,”Maafkan bapak, Nak. Cuma kontrakan kecil ini yang bisa kita tinggali. Semoga kamu bisa mengerti.”&lt;br /&gt;Orang tua itu lalu memeluk anaknya erat. Dekapannya begitu hangat dirasa. Memburatkan perasaan sayang yang teramat dalam seorang ayah kepada anaknya. Lalu ia berbisik kepada anaknya,”Kamu main saja dulu. Entar kalau kamu lapar, kamu pulang ya.”&lt;br /&gt;“Iya, Pak.”&lt;br /&gt;Anak itu lalu beranjak dari dekapan orang tua. Ia berdiri lalu pergi keluar rumah. Sementara ayahya hanya bisa menyeringai. Ia hanya bisa memikirkan malang nasibnya kini. Sebagai seorang veteran, yang ditinggal mati istri dan kedua anaknya. Hanya anak angkat itulah yang membuatnya tetap bersemangat. Anak kecil yang ia ambil dari jalanan!&lt;br /&gt;Ia bingung, mengapa pemerintah tidak memikirkan orang seperti dirinya? Padahal dia dulu ikut berperang. Berjuang mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini. Tunjangan kecil yang diterimanya ini hanya cukup untuk menyewa rumah kecil di dekat tempat pembuangan sampah ini.&lt;br /&gt;Dalam lamunan. Tiba-tiba ia mendengar teriakan dari luar rumah. Tak ayal, ia langsung beranjak keluar.&lt;br /&gt;“Tolong…! Tolong…! Kebakaran…! Kebakaran…!Kebakaran…!”&lt;br /&gt;Ia tertegun sejenak. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Warga berhamburan. Api menyalak-nyalak dengan hebatnya. Siraman air dari ember-ember warga tak jua mampu memadamkanya. Dari kejauhan, ia melihat ibu-ibu tergeletak di tanah sambil terisak-isak.&lt;br /&gt;“Ayo siram, cepat…”&lt;br /&gt;“Sebelah sana! Ayo cepat siram!”&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia teringat anaknya.&lt;br /&gt;“Anakku!” ia berlari. Terus berlari sambil terhuyung-huyung mencari anaknya. Hingga ia menemukanya di antara kerumunan warga. Ia langsung memeluknya erat. Sangat. Tanpa disadari kelopak matanya basah.&lt;br /&gt;Ia memandangi anaknya tanpa lekang. Dalam hati ia berkata,”Tuhan, dimana Engkau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah penikmat sastra. Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-1854900754467246156?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/1854900754467246156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/tepi-api.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/1854900754467246156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/1854900754467246156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/tepi-api.html' title='Tepi Api'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-5844653039247794441</id><published>2009-10-11T19:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T22:54:42.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sowan Sesepuh'/><title type='text'>"Di UIN Jakarta, Sastra Dianggap Pinggiran!”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;Selasa pagi (2/6/2009), Abraham Zakky Zulhazmi dan Kenyot Adisattva dari Teh Hangat, berkesempatan sowan ke rumah Jamal D Rahman (Pemred Majalah Sastra Horison). Berikut cuplikan obrolan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat Mas Jamal tertarik dengan sastra?&lt;br /&gt;Banyak faktor yang membuat saya tertarik dengan sastra. Salah satunya, ketika di suatu kesempatan kiai saya pernah ceramah dan mengutip ayat Al Quran. Beliau menerjemahkan wa ilal jibali kaifa nusibat (bagaimana gunung-gunung ditancapkan). Nah, bagi saya kata 'gunung-gunung ditancapkan sangat-sangat mengesankan. Biasanya orang mengatakan 'gunung itu menjulang', tapi disini dikatakan 'gunung itu ditancapkan', bagi saya itu memukau sekali. Dari situ saya merasa bahasa itu punya keindahan, punya tenaga. Disamping banyak hal lain yang menjadikan saya menyukai sastra, semisal guru Bahasa Indonesia, teman-teman yang mendorong saya membaca karya sastra, juga buku-buku yang tersedia di perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi sastra bagi manusia menurut Mas Jamal?&lt;br /&gt;Sastra itu menggunakan dua alat penting, bahasa dan imajinasi. Bahasa salah satu fungsinya adalah memberikan eksistensi kepada sesuatu, sederhananya memberi nama. Jadi sesuatu itu memiliki eksistensi jika diberi nama. Anak bahkan sebelum lahir oleh orang tua sudah direncanakan namanya. Planet ketika ditemukan juga diberi nama. Itu fungsi bahasa, membuat sesuatu menjadi ada. Kedua adalah imajinasi, menurut hemat saya imajinasi merupakan suatu anugerah yang hanya diberikan tuhan kepada manusia. Oleh karena itu, berbicara dengan manusia tuhan juga menggunakan imajinasi. Dengan demikian sastra merupakan salah satu cara manusia berada, menegaskan eksistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Jamal melihat sedang ke mana arah sastra Indonesia kini?&lt;br /&gt;Pastinya perkembangan sastra Indonesia sangat menggembirkan, dalam arti sastra Indonesia sekarang cukup semarak. Di lihat dari jumlah penerbitan buku, media masa, jumlah kegiatan di mana-mana serta banyak komunitas-komunitas sastra. Buat saya itu sangat menggembirakan. Bahwa kegiatan sastra itu hidup di Indonesia. Belum lagi sejumlah apresiasi dan penghargaan yang diberikan oleh pers dan berbagai lembaga. Yang juga menggembirakan, menurut saya, ialah munculnya pengarang anak-anak, penulis-penulis cilik yang masih duduk di bangku SD, itu fenomena yang baru sama sekali di Indonesia. Baru sepuluh tahun terakhir inilah kita punya sejarah anak usia SD menulis buku puisi, cerpen, novel dan esai. Lebih menggembirakan lagi kemunculan mereka di tengah pengajaran sastra kita yang kurang bagus, di hampir semua sekolah. Tapi, di setiap kegembiraan selalu terselip tanda tanya; apakah dengan semaraknya sastra belakangan ini dapat dipandang sebagai memajukan selangkah dua langkah sastra Indonesia kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;alu siapa yang berperan menjadikan penulis cilik tadi  produktif?&lt;br /&gt;Saya kira salah satu peran yang sangat penting adalah pers. Karena pers yang paling konsisten memberikan ruang, dorongan serta merangsang mereka untuk berkarya. Belakangan juga penerbit. Banyak yang bersedia menerbitakan karya remaja dan anak-anak. Kalau dulu boleh dibilang tidak ada penerbit yang mau menerbitkan karya remaja atau anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana dengan sastra dan mahasiswa, kecenderungan apa yang terjadi akhir-akhir ini?&lt;br /&gt;Dari pengalaman saya mengelola rubrik Kakilangit di majalah Horison, ketika mereka SMA potensi menulis karya sastra sangat baik, banyak media  menyediakan ruang. Tetapi begitu  meng-injak bangku kuliah, mereka tidak lagi mendapatkan media seluas ketika di SMA. Memang mahasiswa sudah bisa masuk media-media umum, tidak lagi memerlukan media khusus. Inilah sebenarnya tantangan tersendiri bagi mahasiswa untuk mencari celah dan kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mahasiswa mengirim karya sastra, apakah media akan mendahulukan karya senior untuk dimuat ketimbang karya mahasiswa?&lt;br /&gt;Saya kira tidak. Justru media selalu mencari penulis-penulis muda (mahasiswa-red). Kalau senior itu katakanlah sudah jadi, maka media berkepentingan mencari bibit baru penulis-penulis muda. Karena itu mahasiswa harusnya sangat produktif. Pasalnya, berbagai kesempatan memungkinkan untuk itu. Memang lagi belajar, haus-hausnya baca buku, menulis dan mengirimkan tulisan ke media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai dosen dan alumni UIN Jakarta, apa pendapat Mas Jamal tentang sastra di UIN Jakarta?&lt;br /&gt;Sastra seharusnya tidak terlalu bergantung pada background keilmuan. Mahasiswa apa saja boleh menulis sastra. Di tiap fakultas tentunya ada yang berminat dengan sastra, cuma tidak tahu sejauh mana terkoordinir. Di UIN Jakarta, saya rasakan sastra cenderung dianggap pinggiran dari keseluruhan kajian pemikiran belakangan ini. UIN seingat saya tidak pernah memberikan gelar honoris causa pada bidang sastra. Sastra dianggap tidak penting begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Mas Jamal dengan kehadiran Komunitas Sastra Senjakala?&lt;br /&gt;Bagi saya kehadiran komunitas sastra semacam ini sangat penting dan menarik. Karena sepengetahuan saya, para sastrawan besar rata-rata lahir dari sebuah komunitas, jarang yang lahir sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;ABRAHAM ZAKKY ZULHAZMI&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-5844653039247794441?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/5844653039247794441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/di-uin-jakarta-sastra-dianggap.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5844653039247794441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5844653039247794441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/10/di-uin-jakarta-sastra-dianggap.html' title='&quot;Di UIN Jakarta, Sastra Dianggap Pinggiran!”'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3328768922535559935</id><published>2009-06-30T16:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:33:18.901-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng Senja'/><title type='text'>Surat Azimat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Corrie Sunna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;Ku tuliskan sebuah cerita sederhana yang barangkali lebih baik aku sebut sebagai surat. Kemudian akan kuselipkan di bawah pintu rumah kita. Agar saat kau pulang dari mengunjungi mereka, kau semakin tersiksa mencintaiku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dear, Mas Surya&lt;br /&gt;Sebelum fajar menarik kakimu sampai di depan rumah kita. Aku dengan hati-hati mengangkat kakiku yang luka-luka akibat mengerjarmu setiap sore; menahanmu agar tidak bermalam di luar sana, sungguh peluh menyeret ngilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, bila aku melulu minta mati karena tak kuat menyimpan dahaga. Meski kau Surya, matahari empunya Alam Raya, menerangi satu bagian dunia ke bagian dunia yang lainnya. Tapi, kau anggap apa aku ini?. Memang, kau pernah bilang “Matahari tidak ada di malam hari”. Dan aku mengamini petuahmu. Kau tersenyum lebar sambil mengelus-elus kepalaku. Setelah itu aku bisa manut, memaklumi jalanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu? Apa yang menemaniku saat kau melaksanakan kunjungan-kunjungan harianmu?. Yaitu, mimpi-mimpi aneh masuk dalam tidurku hingga aku tak berani lagi memejamkam mata. Jadwal malamku berubah, aku jadi pecandu kopi malam dan lebih sering mengisap sisa-sisa puntung rokokmu. Bahkan malam makin menyakitkan. Rasanya aku telah jauh dari tubuhmu, hanya piyama biru yang masih baru, masih tergantung di lemari, menenangkanku, meyakinkan diriku akan kau yang pernah ada di kamar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus pergi, bukan karena pada satu sore aku menemukanmu sedang menjadi laki-laki di tengah padang. Bukan itu, aku harus pergi karena mataku bertambah minusnya, sedang harapku ingin menjadi mata matahari baru setengah jadi. Maka, aku harus pergi ke optik, mereparasi korneaku dengan lensa bunga. Jika aku tak kunjung kembali. Jangan khawatir, segelas susu hangat dan sepiring biskuit kesukaanmu ada di atas meja. Kau baik-baik ya di rumah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini hari, sepasang mata berhenti di loket stasiun kereta. Sepasang mata itu tampak kebingungan. Petugas lalu mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mau kemana?”&lt;br /&gt;“ Saya tidak tahu,”&lt;br /&gt;“Mau ke Surga?”&lt;br /&gt;“Boleh...tapi jawab dulu pertanyaan saya”&lt;br /&gt;“Di Surga ada matahari atau tidak?”&lt;br /&gt;“Saya jarang ke sana, tapi sepertinya tidak ada”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, saya pesan satu tiket ke surga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah mahasiswi FAH/BSA/6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3328768922535559935?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3328768922535559935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/surat-azimat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3328768922535559935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3328768922535559935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/surat-azimat.html' title='Surat Azimat'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3925333382884582136</id><published>2009-06-30T16:15:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:37:49.974-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng Senja'/><title type='text'>Solitude</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Arief Mahmudi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah lelaki. Siapa pun tahu itu. Tapi tahukah kamu bahwa aku adalah lelaki yang lahir dari rahim sunyi? Aku adalah lelaki, lelaki sunyi tepatnya. Hidupku tentu sesuai dengan predikatku: selalu diselimuti sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak selamanya kesunyian menyelimuti hidupku. Pernah suatu ketika, aku merasakan keramaian itu, kebahagiaan itu. Walau hanya sesaat. Walau hanya sekejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berawal dari taman itu. Taman yang juga sama seperti diriku: sunyi dan sepi. Taman yang menjadi tempat terindah bagiku untuk menyepi sambil menikmati baris demi baris puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu senja yang menyemburatkan warna jingga, di salah satu pojok taman itu, kudapati seorang wanita duduk termenung di sebelahku. Aku, yang memang tak terbiasa menyapa orang lain, bersikap biasa saja menanggapi kehadiran wanita itu. Namun, setelah wanita itu masih terus terdiam, aku beranikan diri untuk menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu begitulah segalanya terjadi. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Hawa. Saat kutanya apa yang sedang dilakukannya di taman, dia bilang ingin sejenak menenangkan diri. Lalu meluncurlah kalimat demi kalimat pengakuannya. Ia bercerita mengenai dirinya yang suka mengiris pergelangan tangannya dengan silet. Aku mendengarnya dengan serius. Ia bercerita tentang teman-temannya yang tak mengerti dirinya. Aku juga mendengarnya dengan serius. Ia bercerita bahwa ia ingin punya kekasih yang mengerti dirinya. Aku mendengarnya lalu menawarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya aku menemukan diriku telah menjadi kekasih Hawa. Bersama, kami lewati hari-hari dengan sukacita. Berjalan berdua, membincangkan segala hal yang bisa dibincangkan. Mulai dari masalah orang tua, puisi, lagu-lagu hingga politik. Namun sebenarnya aku dan Hawa hidup di dunia yang berbeda. Aku hidup di halaman-halaman buku, ia hidup di panggung paduan suara. Dan perbedaan-perbedaan lainnya. Maka, pada akhirnya, hubungan kami kandas. Aku pun kembali kepada fitrahku semula sebagai lelaki sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah lelaki, lelaki yang terlahir dari rahim sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah mahasiswa FITK/PAI/6. Bergiat di Komunitas Sastra SENJAKALA, Ciputat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3925333382884582136?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3925333382884582136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/solitude.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3925333382884582136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3925333382884582136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/solitude.html' title='Solitude'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-9020664807472623650</id><published>2009-06-30T16:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:15:35.233-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seduhan Penutup'/><title type='text'>Turun Jabatan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;Orang sekabupaten bingung berfikir siapa layak gantikan Bupati yang baru saja mereka kudeta karena kasus korupsi. Sudah tiga minggu daerah otonomi tingkat dua  itu berjalan tanpa adanya struktur birokrasi yang jelas. Pemilihan bupati secara langsung oleh rakyat sudah hampir diselenggarakan. Namun masyarakat tak yakin dengan keberadaan kedua pasangan calon yang sudah terdaftar. Masyarakat hendak mencari pemimpin alternatif yang bisa diajukan untuk memulihkan kondisi. Lalu Mat Sastro. Dialah orang yang dianggap mampu. Seorang pemuka masyarakat; kiprahnya di kabupaten sangat nyata, memberi pengaruh positif. Masyarakat pasti menerima jika ia yang jadi bupati. Pertimbangan itu akhirnya membawa masyarakat berbondong menemui Mat Sastro. Mereka sampaikan maksud. Tanpa panjang bicara  Mat Sastro menjawab “Sampean-sampean hendak menurunkan derajat saya?? Sampean-sampean tentu juga tahu bahwa kekuasaan tertinggi di negeri ini ada di tangan rakyat. Sementara jika harus jadi bupati berarti turun jabatan saya, tadinya penguasa tertinggi lalu jadi kacung. Tepatnya kacung rakyat. Saya terima sampean-sampean sebagai tamu. Tapi jika ingin memaksakan maksud itu, lebih baik pulanglah, maaf, saya tidak mau”. Mendengar itu mereka pun langsung pamit. Wajah mereka senyum, namun di hati mereka mengumpat-ngumpat sejadijadinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-9020664807472623650?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/9020664807472623650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/turun-jabatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/9020664807472623650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/9020664807472623650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/turun-jabatan.html' title='Turun Jabatan'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-652171914453461090</id><published>2009-06-30T16:13:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:14:33.606-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seduhan Penutup'/><title type='text'>Manohara oh Manohara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;Mat Sastro sedang berpakansi bersama keluarga. Mereka hendak nonton bioskop. Sudah sejak lama mereka rencanakan ini. Tapi apa mau dikata jika bisokop kita selalu dipenuhi film hantu dan cinta-cintaan. Mereka malas jadinya. Ada film keluarga diputar sekarang. Garuda Di Dadaku ia berjudul. Si sulung dan si bungsu antusias menonton. Di tengah perjalanan Mat Sastro menyungging senyum. Lihat iklan capres dimana-dimana. Ada yang enggan dianggap antek neolib tapi minta diLanjutkan! Ada pula yang namanya jadi merek sepatu lokal dan selalu ingin lebih cepat (karena katanya) lebih baik. Tak ketinggalan titisan sang proklamator dengan pencitraan senantiasa pro rakyat, peduli wong cilik. Sampai bioskop istri Mat Sastro nyletuk: wah, ini kalau bintangnya Manohara pasti judulnya bukan Garuda Di Dadaku. Heran Mat Sastro bertanya: trus apa dong? Si Istri menjawab polos: Sayatan Di Dadaku! Anak sulung Mat Satro menimpali: eh, Manohara udah punya sinetron lho, Ma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-652171914453461090?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/652171914453461090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/manohara-oh-manohara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/652171914453461090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/652171914453461090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/manohara-oh-manohara.html' title='Manohara oh Manohara'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-1683208327671762904</id><published>2009-06-30T16:12:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:38:29.824-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obrolan Sore'/><title type='text'>Sumpahku Padamu, Madura!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Hasyim Zain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madura merupakan salah satu kepulauan di Indonesia yang menyimpan kekayaan budaya. Di antaranya adalah kerapan sapi yang hingga saat ini masih asyik dinikmati. Itu merupakan budaya Madura murni tanpa tercampuri moderenisasi. Dan semoga tidak ikut-ikutan diklaim sebagai kesenian negri jiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda Madura adalah pemuda Indonesia yang punya rasa tanggung jawab untuk menuruskan tradisi nenek moyangnya. Keras watak orang pesisir sangat kental melekat pada cara berpikir mereka. Ketika saya mencoba menembus suasana malam di Madura, bulu kuduk saya sontak berdiri. Setiap kali orang lewat di hadapan saya, pasti ada sesuatu yang melingkar di pundaknya. Entah apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang seperti itu ciri khas tersendiri bagi Madura. Semua budaya dan tradisimereka masih terjaga rapi, dan tak membosankan tuk dinikmati. Saya teringat seorang kawan di pelabuhan Ujung. Sambil menunjuk beton yang melintang jauh ke arah Surabaya, ia lirih berucap “itu Suramadu”. Jembatan yang menjadi harapan untuk perubahan, sekalipun terkesan gegabah dalam pembangunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya saya beranggapan bahwa Suramadu adalah jembatan biasa. Seperti dalam puisi D. Zawawi Imron “di atasmu akan kupasang jembatan bambu agar para petani mudah melintasimu.” Namun akhir-akhir ini saya mengetahui bahwa jembatan itu adalah jembatan yang akan membuka mata orang Madura untuk lebih melihat kedepan. Dan mereka harus siap dengan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dengan dibangunnya jembatan Suramadu, Madura harus lebih siap dalam menghadapi tantangan era globalisasi yang akan memasuki bilik-bilik mereka dengan leluasa. Suramadu, menurut saya, merupakan jambatan yang akan membuat Madura lebih maju. Kurang tepat jika orang Madura menyimpan ketakutan terhadap Suramadu, seperti kebanyakan etnis Madura mengatakan “ mon Suramadu deddih ea bangun, ancor  jeh madureh”&lt;br /&gt;Nanti, kata kawan saya tadi, kelak disini akan terbangun gedung-gedung yang menjulang tinggi, yang budaknya adalah asli pribumi. Semua budaya disini akan mudah terkontaminasi dengan budaya luar yang semakin mudah keluar masuk ke pulau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Madura yang saya tahu, Madura yang dulu jauh dari keramaian dan Madura yang  sekarang akan menemukan perubahan. Dan mulai saat ini, atas nama orang Madura saya akan  bersumpah untuk tetap menjaga tradisi dan budaya Madura. Sebagaimana sumpah D. Zawawi Imron  dalam puisinya “di ubun langit kuucapkan sumpah: Madura, akulah darahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah mahasiswa FDK/KPI/2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-1683208327671762904?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/1683208327671762904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/sumpahku-padamu-madura.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/1683208327671762904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/1683208327671762904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/sumpahku-padamu-madura.html' title='Sumpahku Padamu, Madura!'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-2305061288828264170</id><published>2009-06-30T16:08:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T16:39:08.645-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Di Lesehan Senja</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Amelia Fitriani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berikan aku sebatang rokok&lt;br /&gt;dan secangkir kopi!&lt;br /&gt;biar bisa kutumpahkan&lt;br /&gt;penat dan lelahku&lt;br /&gt;pada tiap tegukan kopi&lt;br /&gt;dan hisapan rokok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarkan aku menceritakan&lt;br /&gt;kisahku pada mereka&lt;br /&gt;saat mereka menempel di bibirku&lt;br /&gt;biarkan aku mencumbu mereka mesra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarkan aku tetap begini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berikan aku sebatang rokok&lt;br /&gt;dan secangkir kopi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-2305061288828264170?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/2305061288828264170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/di-lesehan-senja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2305061288828264170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2305061288828264170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/di-lesehan-senja.html' title='Di Lesehan Senja'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-8657764730782157536</id><published>2009-06-30T16:05:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:42:33.874-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>segelas susu, untukmu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Dedik Priyanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        ;uzed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada mata yang mencelang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau suruh buatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;segelas susu yang kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     peras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari tetestetes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     r&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-8657764730782157536?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/8657764730782157536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/segelas-susu-untukmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8657764730782157536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8657764730782157536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/segelas-susu-untukmu.html' title='segelas susu, untukmu'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-5194632224832047864</id><published>2009-06-30T16:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:47:50.349-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Seandainya Dapat Kumiliki Matahari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Qariah Hamidi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya dapat kumiliki matahari&lt;br /&gt;Akan ku simpan dia dalam mangkok airku&lt;br /&gt;Meredam panasnya dengan batu es&lt;br /&gt;Lalu ku gantungkan kembali di atap bumi&lt;br /&gt;Bersinar, tanpa tatap nanar&lt;br /&gt;Dan pusing di kepalaku tak jadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya dapat kumiliki matahari&lt;br /&gt;Akan kuhadiahi dia sebuah cermin&lt;br /&gt;Biar pantulan angkuhnya tenggelam&lt;br /&gt;Bersama senja&lt;br /&gt;Merekah tinggalkan makhluk malam&lt;br /&gt;Bersitatap meneguk embun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya dapat kumiliki matahari&lt;br /&gt;Akan kubiarkan dia menginjak tanah&lt;br /&gt;Bermain hujan, berlarian mengejar serangga&lt;br /&gt;Terjatuh, serta bersenandung katak&lt;br /&gt;Tek dung… tek dung…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya dapat ku miliki matahari&lt;br /&gt;Hari ini, bukan nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-5194632224832047864?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/5194632224832047864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/seandainya-dapat-kumiliki-matahari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5194632224832047864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5194632224832047864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/seandainya-dapat-kumiliki-matahari.html' title='Seandainya Dapat Kumiliki Matahari'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-4074786134588460677</id><published>2009-06-30T16:03:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:51:00.348-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Negri Para Mati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Hasyim Zain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air mata menjadi mata air&lt;br /&gt;dalam negri para mati&lt;br /&gt;mengalir deras dari atas bukit&lt;br /&gt;meruntuhkan kaki langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membandang menerjang&lt;br /&gt;segala yang gersang.&lt;br /&gt;membangkitkan semua yang mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;genangi negri&lt;br /&gt;genangi bumi&lt;br /&gt;genangi hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air tak bisa menepi&lt;br /&gt;tak temukan titik bumi&lt;br /&gt;semuapun terlanjur mati&lt;br /&gt;dalam negri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua tak bisa bangkit&lt;br /&gt;dengan air yang telah melangit.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-4074786134588460677?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/4074786134588460677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/negri-para-mati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4074786134588460677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4074786134588460677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/negri-para-mati.html' title='Negri Para Mati'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-488185284869798125</id><published>2009-06-30T16:01:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:51:52.661-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Mencatat Singkat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Kenyot Adisattva&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi. Fajar:&lt;br /&gt;Habis kang,&lt;br /&gt;   Tinggal endapan&lt;br /&gt;neng nong neng gung…&lt;br /&gt;nyanyi. Hi&lt;br /&gt;            hih&lt;br /&gt;Oalaah. “Ga ngerti. Aku ga merhatiin”.&lt;br /&gt;Malah jadi kaya puisi siapa…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sudah, tak lagi bersuara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-488185284869798125?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/488185284869798125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/mencatat-singkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/488185284869798125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/488185284869798125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/mencatat-singkat.html' title='Mencatat Singkat'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3908927657897973594</id><published>2009-06-30T16:00:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:55:12.062-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Bertanya Pada Bunda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Nadd Chafsin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pernah bertanya pada bunda&lt;br /&gt;seberapa besar cinta ayah kepadanya&lt;br /&gt;dengan manis bunda tersenyum&lt;br /&gt;: ya, hanya tersenyum&lt;br /&gt;aku bingung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keesoksan harinya aku masih&lt;br /&gt;mempertanyakan hal itu kepada bunda&lt;br /&gt;tapi lagilagi hanya senyum manis&lt;br /&gt;: namun terlihat getir&lt;br /&gt;yang yang aku dapatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;besoknya aku bertanya lagi&lt;br /&gt;terus bertanya lagi&lt;br /&gt;tetap bunda hanya menarik kedua&lt;br /&gt;ujung bibir indahnya&lt;br /&gt;yang kini mulai mengeriput&lt;br /&gt;menjadi sebuah garis melengkung&lt;br /&gt;: tergambar ketulusan dan kesabaran&lt;br /&gt;selalu seperti itu&lt;br /&gt;dan seperti itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3908927657897973594?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3908927657897973594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/bertanya-pada-bunda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3908927657897973594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3908927657897973594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/bertanya-pada-bunda.html' title='Bertanya Pada Bunda'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3547997767604761567</id><published>2009-06-30T15:56:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:56:11.375-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Rasa Kata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Risky Waesul Qurni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata rasa&lt;br /&gt;Rasa kata&lt;br /&gt;Rasa rasa&lt;br /&gt;Kata kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata rasa kata&lt;br /&gt;Rasa kata kata&lt;br /&gt;Rasa rasa kata&lt;br /&gt;Kata rasa kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ya rasa&lt;br /&gt;Rasa ya kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kata rasa itu rasa&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3547997767604761567?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3547997767604761567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/rasa-kata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3547997767604761567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3547997767604761567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/rasa-kata.html' title='Rasa Kata'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-4697171911909068983</id><published>2009-06-30T15:54:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T16:59:40.887-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Sesak Sesat Sesal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;: Ust. Mundzir Fattah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Abraham Zakky Zulhazmi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di stasiun tempat singgah ‘Uqudulijain&lt;br /&gt;ada kereta malam melaju tanpa tujuan&lt;br /&gt;bermuatan pelangi-pelangi kesepian&lt;br /&gt;turun satu-satu menyudahi lebat hujan&lt;br /&gt;pagi ini kita tiada melihat cerlang matahari&lt;br /&gt;sebab kemarin dia memilih mandi pagi&lt;br /&gt;kita menggosok badannya tanpa basa-basi&lt;br /&gt;lantas salah siapa jika langit tiba-tiba mati?&lt;br /&gt;matahari dalam Alfiah telah naik kereta&lt;br /&gt;bersama ujung qonaah dia menyibak kota&lt;br /&gt;hujan memandikan kita tengah malam buta&lt;br /&gt;di sekujur tubuh yang basah sesal bercerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007-2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-4697171911909068983?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/4697171911909068983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/sesak-sesat-sesal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4697171911909068983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4697171911909068983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/sesak-sesat-sesal.html' title='Sesak Sesat Sesal'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-5083240420348654478</id><published>2009-06-11T00:23:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T00:25:07.772-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Historia Senjakala'/><title type='text'>Secangkir Profil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;Segala bermula dari rasa jengah terhadap sumpek suasana Pemira 2008. Agitasi, propaganda, jegal sana-sini, lobi-lobi busuk: kampanye kotor! Akhirnya merlahirkan  satu kesimpulan kalimat “Ketika politik sudah semakin kotor dan busuk, biarkan sastra yang jadi penengahnya, yang jadi penyucinya.” Lantas pula, hasrat bersastra yang menggelinjang jalang sudah sampai titik klimaks. Maka, tak ada onani dan masturbasi sore hari, kami dirikan saja Forum Diskusi Sastra SENJAKALA pada hari Rabu, 3 Desember 2008. Semenjak saat itu, setiap Rabu senja, kami saling bicara dan berbagi tentang sastra. Adalah niscaya hidup dipenuhi noda. Tidak munafik kami ikut berkubang pada ruang-ruang berlumuran dusta dan nista. Sehingga, hanya dengan sastra kami menyucikannya. Sedang hadirnya buletin ini adalah sebagai sesaji atas pemujaan kami kepada Sang Hyang Tunggal, sebagai ucapan terimakasih atas segala kejadian. Selanjutnya, semoga menjadi do’a.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-5083240420348654478?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/5083240420348654478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/secangkir-profil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5083240420348654478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5083240420348654478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/secangkir-profil.html' title='Secangkir Profil'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3037568916545673743</id><published>2009-06-11T00:21:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T01:55:49.437-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Historia Senjakala'/><title type='text'>Para Peramu Teh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenyot Adisattva&lt;/span&gt;, putra Pengging Handayaningrat. Kembara yang tak pernah surut langkah meski tak pernah tahu arah. Belajar sastra semenjak usia yang ke-14 di Kabupaten Boyolali. 3 tahun terdampar pada hirukpikuk kehidupan kota Solo. Sempat mendirikan sanggar sastra “Kijing” di Solo. Di situ sebagai pendiri, koordinator, sekaligus anggota tunggal. Sekarang berdomisili sementara di Ciputat sebagai mahasiswa. Beralamat singgah dunia maya pada: email: nasihinaziz8@gmail.com YM: adi_satva@yahoo.co.id, FS: azizganteng@gmail.com, blog: kenyotadisattva.webs.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Atik Khoiriyah, mantan Ketua Cabang HMI Ponorogo menikah dengan Bapak Maftuh Bahrul Ilmi yang dulunya Ketua Pemuda Muhammadiyah Ponorogo. Lahir jabang bayi yang mereka beri nama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abraham Zakky Zulhazmi&lt;/span&gt;. Kini duduk di semester 2 Jurusan Komunikasi UIN Jakarta, aktif di PMII. Waktu SMA, ia merintis dan mengetuai Komunitas KETIK, sebuah komunitas penulis muda Kota Solo. Lebih gamblang tentangnya, silakan mampir di abrahamzakky.blogspot.com, atau bergabung di facebook: zakkyzulhazmi@yahoo.com dan YM: angin_embun@yahoo.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hasyim Zain&lt;/span&gt;, pemuda ini lahir di Probolinggo Jawa Timur 12 Juni 1986 di lingkungan keluarga jalanan. Kerap mengikuti forum-forum diskusi sastra, agama, politik, sosial dan lain-lain. Acim, begitu ia akrab disapa, adalah mantan anak punk yang berevolusi menjadi santri di salah satu pesantren di Jawa Timur. Dia juga pernah dipercaya sebagai duta pesantren ke daerah-daerah di pulau Madura. Saat ini, Acim tercatat sebagai mahasiswa UIN Ciputat Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan diamanati menjadi koordinator Sapulidi dan JAMAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa sore, 4 Nopember 1989 seorang ibu konstraksi di sudut kamar rumah sakit. Anak yang beliau lahirkan telah mencintai beliau semenjak masih jadi janin dalam rahim. Dialah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nadd&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chafsin&lt;/span&gt;. Si tukang ngayal yang cinta nyanyi. Hidup dalam kebebasan tanpa kekangan yang dicerminkan dengan berkecimpung dalam Komunitas Bikers KAZOEL. Meski begitu, dia masih meluangkan waktu untuk berkesenian di Grup Marawis Al-Ihsan Warakas Tanjung Priok.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3037568916545673743?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3037568916545673743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/para-peramu-teh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3037568916545673743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3037568916545673743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/para-peramu-teh.html' title='Para Peramu Teh'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-6476296828019893377</id><published>2009-06-11T00:17:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T00:18:09.458-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seduhan Penutup'/><title type='text'>Bosan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;Otak Mat Sastro lagi kacau. Dia sedang bosan. Tapi, bosannya bukan sembarang bosan. Mat Sastro sedang bosan dengan istrinya! Dilihatnya istrinya tiap hari begitu-begitu saja. Bangun pagi, seduh kopi, masak, bikin sarapan, bersih-bersih rumah, nyetrika baju dan itu, dan itu lagi. Pulang kantor, tanya ada cerita apa hari ini, menyiapakan makan malam, dan begitu begitu terus. Wajahnya juga tak bakal berubah. Mat Sastro bosan jadinya. Dia berpikir keras bagaimana caranya membunuh bosan ini. Kehabisan akal, dia pergi keluar rumah. Sepanjang jalan Mat Sastro lihat banyak warung nasi. Ada nasi uduk, nasi kabuli, nasi goreng, nasi rames, semua serba nasi. Seperti dapat wahyu dari Tuhan, terbetik sebuah pemikiran di benak Mat Sastro. Katanya, istriku itu ibarat nasi. Mau diapakan juga nasi asalnya tetap dari beras. Tinggal seberapa inovatif aku mengolah nasi itu menjadi varian masakan yang tak menjemukan. Mat Sastro geleng-geleng lalu senyum-senyum.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-6476296828019893377?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/6476296828019893377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/bosan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6476296828019893377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6476296828019893377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/bosan.html' title='Bosan'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3723042571397829632</id><published>2009-06-10T23:47:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T00:20:46.485-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Fragmen Malam Lengang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kepada Amelia Fitriani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Arief Mahmudi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ajari aku bersastra!” katamu pada suatu malam&lt;br /&gt;yang lengang. Ketika itu kau datang padaku&lt;br /&gt;dengan membawa selaksa harapan&lt;br /&gt;serta semesta impian untuk mengarungi&lt;br /&gt;samudera yang kau beri nama: sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baiklah. Kemarilah, Mel. Bawalah sajak-sajak&lt;br /&gt;dan cerita-ceritamu kepadaku. Bawa naiklah mereka&lt;br /&gt;ke dalam perahuku. Biar nanti kita arungi&lt;br /&gt;samudera itu bersama-sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: semoga bayu yang bertiup kencang di tengah samudera&lt;br /&gt;tak melimbungkan laju perahu kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2009)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3723042571397829632?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3723042571397829632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/fragmen-malam-lengang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3723042571397829632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3723042571397829632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/fragmen-malam-lengang.html' title='Fragmen Malam Lengang'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-5137173051805825967</id><published>2009-06-10T23:46:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T23:47:34.766-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Arti Sebuah Prinsip</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Sabir &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit begitu megah&lt;br /&gt;Berdiri dengan gagah dan kokoh&lt;br /&gt;Lautan begitu luas&lt;br /&gt;Terhampar tanpa batas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaudaraan adalah ikatan sakral&lt;br /&gt;Bertutur tanpa pamrih&lt;br /&gt;Prinsip adalah jalan dan pandangan hidup kekal&lt;br /&gt;Mungkin berubah tapi tak mungkin dengan pasrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup mungkin berakhir&lt;br /&gt;Persaudaraan mungkin terputus&lt;br /&gt;Namun prinsip tetaplah abadi&lt;br /&gt;Bertahan dengan adanya waktu&lt;br /&gt;Kekal dengan hadirnya hembusan nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-5137173051805825967?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/5137173051805825967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/arti-sebuah-prinsip.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5137173051805825967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5137173051805825967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/arti-sebuah-prinsip.html' title='Arti Sebuah Prinsip'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-959537376146440091</id><published>2009-06-10T23:45:00.001-07:00</published><updated>2009-06-10T23:45:42.945-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Balas SMS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tentang titik itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Abraham Zakky&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika aku membawamu&lt;br /&gt;ke suatu pesta&lt;br /&gt;mungkin aku akan jatuh malu&lt;br /&gt;sebab kau tak suka gaun&lt;br /&gt;sebab kau tak pandai dansa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih slalu dalam bahasa&lt;br /&gt;basa-basi keraton&lt;br /&gt;seseorang memaksa untuk&lt;br /&gt;menunggu lalu membalas&lt;br /&gt;sms-sms yang su’udzon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apalah jadinya bila&lt;br /&gt;aku tak lagi pegang hape&lt;br /&gt;sementara undangan pesta&lt;br /&gt;ramai menyesaki inbox&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebaiknya isi pulsa&lt;br /&gt;atau ganti cashing hape?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-959537376146440091?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/959537376146440091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/balas-sms.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/959537376146440091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/959537376146440091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/balas-sms.html' title='Balas SMS'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-2558384030153892511</id><published>2009-06-10T23:43:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T23:44:18.983-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Linglung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Kenyot Adisattva&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;coba kuak makna&lt;br /&gt;hantaman limpah menghujam&lt;br /&gt;mendera&lt;br /&gt;bumi berpelanting raga&lt;br /&gt;menembus ruang mahamaya&lt;br /&gt;berdendang kidung: ah, ada-ada saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan hampiri hamba&lt;br /&gt;gila hamba&lt;br /&gt;menggigil&lt;br /&gt;menggelinjang rana&lt;br /&gt;nikmat, entah&lt;br /&gt;atau…&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-2558384030153892511?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/2558384030153892511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/linglung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2558384030153892511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2558384030153892511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/linglung.html' title='Linglung'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-8907653161259422601</id><published>2009-06-10T23:25:00.001-07:00</published><updated>2009-06-10T23:38:10.119-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obrolan Sore'/><title type='text'>Menakar Sastra Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Dedik Priyanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kemanakah sastra Indonesia?” pertayaaan itu seringkali muncul tatkala saya lagi ngobrol dengan teman sejawat, atau tatkala berdiskusi di beberapa komunitas sastra. Pertanyaan itu, saya yakin juga menyeruak di benak pencinta dan penikmat sastra tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya sastra memang tak akan terlepas dari keadaan sosio-kultural yang melatarbelakangi kehadiranya. Maka dari itu kalau diperkenanakan menjawab pertanyaan di atas, saya akan menjawab: abstrak. Hampir sama dengan jawaban pertanyaan,”Mau kemanakah negara Indonesia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maman S Mahayana, kritikus sastra UI, menyatakan paling tidak ada dua faktor yang melatarbelakangi hal ini. Pertama. Pengaruh arus globallisasi dan lompatan kemajuan teknologi. Di dalamnya termasuk juga pengaruh media. Sehingga para pencinta sastra bisa dengan mudah mengakses pelbagai karya sastra dari belahan bumi manapun. Misalnya dengan membuka sriti.com, maka akan terlihat cerpen-cerpen yang terbit di pelbagai media di tanah air tiap minggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menjadi sebuah keuntungan bagi sastrawan pemula untuk mempublikasikan karya mereka lewat dunia maya. Begitupun dengan kemunculan komunitas-komunitas sastra di dunia maya seperti cybersastra, apresiasi sastra dan sebagainya, yang  turut memberikan andil bagi khazanah kesusasteraan Indonesia. Namun, berbeda dengan perkembangan media cetak. Terutama setelah tiadanya rubrik sastra pada beberapa  koran Nasional yang notabene menjadi ikon sastra Indonesia seperti Republika dan Media Indonesia. Bahkan saya mendengar dari seorang kawan bahwa majalah Annida—yang biasanya menjadi rujukan penikmat sastra bergenre Islam—telah tidak terbit lagi. Sungguh ironis. Kolom-kolom budaya dan sastra di beberapa koran itu justru tergeser dengan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,  pengaruh perubahan sosial politik dalam tatanan pemerintahan. Seperti kita tahu setelah tumbangnya orde baru pada 1998, perubahan sosial dalam masyarakat terjadi dengan sangat cepat. Tak terkecuali sastra. Setelah masa itu, booming sastra memang sangat menggembirakan. Hal ini ditandai dengan kemunculan para penulis wanita. Sepeti Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu yang berani mengekspos hal-hal yang pada awalnya dianggap tabu. Juga dengan kemunculan arah sastra bergenre Islam—terlepas dari pelbagai kontroversi, namun terbukti sangat diminati oleh khalayak—yang dimotori oleh Helvy Tiana Rosa dkk, lewat Forum Lingkar Pena (FLP) yang mempunyai jejaring luas hingga luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ditandai dengan kebangkitan ‘sastra pembebasan’ yang dimotori oleh Hudan Hidayat lewat komunitas Teater Utan Kayu (TUK). Dan jangan dilupakan keberadaan sastra yang bergenre sains seperti Andrea Hirata dengan Tetralogi Laskar Pelangi yang fenomenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus kemanakah arah sastra Indonesia saat ini? Lagi-lagi sulit memperkirakanya. Abstrak. Yang jelas ke depan akan semakin banyak gebrakan-gebrakan baru yang akan memperkaya khazanah kesusasteraan Indonesia. Dan tentunya memberikan sumbangsih bagi peradaban. Saya teringat sebuah kata indah dari Pramoedya Ananta Toer,” Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai gelar kesarjanaan apa saja. Tapi tanpa mencintai sastra kalian hanya tinggal hewan yang pandai”.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Penulis adalah penikmat sastra, mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-8907653161259422601?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/8907653161259422601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/menakar-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8907653161259422601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8907653161259422601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/menakar-sastra.html' title='Menakar Sastra Indonesia'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-5224146173263473092</id><published>2009-06-10T23:22:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T23:23:00.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng Senja'/><title type='text'>Panggung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Hasyim Zain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di kampungku masih mendengkur dibalik selimut. Cak Nur tertatih-tatih lewat di depan rumahku dengan tongkat bututnya. Biasanya memang sebelum fajar menyingsing, ia sudah siap dengan perangkat sholatnya menuju langgar tempat ia mengadu dan mengeluh pada Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak seperti biasa, pagi itu Cak Nur berhenti di sebuah bangunan tua tanpa penghuni. Bangunan itu adalah miliknya yang telah dihibahkan kepada karang taruna kampungku. Diam, pandangannya tajam. Tertuju pada pada ruang-ruang usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-palan Cak Nur memasuki bangunan itu. Di salah satu ruang ia tertahan, tanpa disadari air matanya menetes. Dilihatnya ruang yang pernah menjadi tempat menyimpan harapan, sekarang penuh dengan kertas kecoklat-coklatan berserakan dilantai. Dikumpulkan kertas-kertas itu, lalu dicarinya tulisan, tapi hilang bentuk wujudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar pun datang menyapa bumi dengan rona merahnya, seakan memberi kehangatan pada bangunan tua itu. Cak Nur berlalu dari ruang itu seraya melempar kertas-kertas di genggamannya ke ruang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas lantai berdebu, Cak Nur menggelar sajadah untuk mengeluh kembali pada Tuhannya. Sekalipun di tempat seperti itu, Cak Nur tetap bisa bermesraan dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadapanya, batu besar tarhampar lebar. Batu itu, ia beli dari salah satu pamahat di Gunung Kidul yang ia siapkan sebagai sebuah panggung. Panggung untuk lahirnya sebuah karya, sebuah pertunjukan rakyat dan buah-buah kesenian lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entah karya siapa, itu terserah. Panggung ini bisa digunakan siapa saja,” katanya dalam sambutan hari peresmian bangunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini, panggung itu hanya menjadi kenangan yang dilupakan oleh pemuda-pemudi kampungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada karya, tak ada pertunjukkan, dan tak ada kesenian apapun yang lahir dari batu itu lagi, ” cemasnya satu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Cak Nur beranjak meninggalkan bangunan itu. Tak lama adzan subuh diserukan oleh Pak Leman dari langgar tempat biasa ia melakukan sembayang lima waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di langgar, Cak Nur ketinggalan satu rakaat. Tanpa ragu ia masuk dalam jamaah. Ia ikuti gerakan imam dan para jamaah lainnya dengan patuh. Sampai mereka mengucapkan salam bersama-sama, dengan mantap ia menyempurnakan hitungan rakaatnya. Di akhir sujudnya, ia mengadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhanku…!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-5224146173263473092?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/5224146173263473092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/panggung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5224146173263473092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5224146173263473092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/panggung.html' title='Panggung'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-2988722675220993003</id><published>2009-06-10T23:20:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T23:42:56.103-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seduhan Penutup'/><title type='text'>HP Raib</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;Mat Sastro pulang ke kosan. Pasti letih seharian bekerja. Datang-datang ia senyum sendiri seperti habis mendapat gaji tambahan. Teman kosnya bertanya-tanya. “Mat, ada apa rupanya? Kau tampak bungah hari ini?” “Ya, beginilah. Hem.. saya habis kecopetan  HP tadi.” “Oya? Di mana? Kok bisa?” “Tadi di angkot. Ya bisa sajalah. Apa sih yang tak bisa?” “Tapi kok malah senyum? Masih waras tho?” “Loh, apa saya tampak seperti sudah gak waras sih? Waraslah.” “Kamu kan lagi susah? Kok gak ada sedihnya?” “Iya, sudah susah ngapain ditambah sedih lagi? Tak perlukan? Saya ini sudah cukup susah yang tadinya punya HP sekarang jadi gak punya. Tadinya komunikasi gampang sekarang agak susah. Lha kalau harus ditambah kesedihan karena kehilangan, nanti malah jadi ada dua kesusahan tho?” Mat Sastro senyum. Temannya tambah bingung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-2988722675220993003?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/2988722675220993003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/hp-raib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2988722675220993003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2988722675220993003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/hp-raib.html' title='HP Raib'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-2126699836850757906</id><published>2009-06-10T23:06:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T23:19:06.357-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Mereka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Lita Sulistia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelap&lt;br /&gt;semua semakin gelap saat kau sadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hitam&lt;br /&gt;semua semakin hitam saat kau lihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tampak angkuh di luar sana&lt;br /&gt;seangkuh gedung-gedung menjulang&lt;br /&gt;yang coba gapai langit ke tujuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kau berdiri di anatara&lt;br /&gt;rau-raut wajah sombong&lt;br /&gt;kau kan tahu, dunia ini palsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringai kebiadaban tersembunyi&lt;br /&gt;dibalik manis manja yang tampak&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;saat ini&lt;br /&gt;berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;coba menghirup sisa–sisa&lt;br /&gt;kehidupan yang terbuang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-2126699836850757906?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/2126699836850757906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/mereka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2126699836850757906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/2126699836850757906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/mereka.html' title='Mereka'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3526216154543355918</id><published>2009-06-10T23:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T23:05:14.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Perjalanan Hidup</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Mahadian Al Habsy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun kembaraku jadi abu&lt;br /&gt;di hadapan pintu kayu itu&lt;br /&gt;yang terbuka lebar&lt;br /&gt;menjulurkan hangat api di pediangan&lt;br /&gt;bukankah disini hangat&lt;br /&gt;kenapa aku dulu lebih suka&lt;br /&gt;mencari hangat yang lain&lt;br /&gt;hanya untuk kembali ke sini&lt;br /&gt;dengan tanda-tanda dingin&lt;br /&gt;di sekujur tubuhku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktulah yang bersalah&lt;br /&gt;aku dulu buta pada keajaiban kaca buram&lt;br /&gt;yang meniris pendar cahaya pagi&lt;br /&gt;menjadi timbunan debu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3526216154543355918?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3526216154543355918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/perjalanan-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3526216154543355918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3526216154543355918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/perjalanan-hidup.html' title='Perjalanan Hidup'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-6648264058694332719</id><published>2009-06-10T23:00:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T23:01:46.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Bakar!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;oleh Amelia Fitriani&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;BAKAR! BAKAR!&lt;br /&gt;hanguskan bangsaku ini!&lt;br /&gt;agar sepi tak berpenghuni&lt;br /&gt;bukan kejamku terpatri&lt;br /&gt;tapi lebih baik begini&lt;br /&gt;daripada selalu didustai&lt;br /&gt;oleh penganut demokrasi tak bernyali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAKAR!&lt;br /&gt;hentikan pedih ini!&lt;br /&gt;pedih sang pentidakpunya materi&lt;br /&gt;yang slalu dikibuli pemimpin berdasi&lt;br /&gt;tak ada kata lain, BAKAR!&lt;br /&gt;agar mereka menemui&lt;br /&gt;betapa mereka tidak bernurani&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-6648264058694332719?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/6648264058694332719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/bakar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6648264058694332719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6648264058694332719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/bakar.html' title='Bakar!'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-4269568909026124752</id><published>2009-06-10T22:55:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:58:24.320-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Berikan Kartuku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh Qariah Hamidi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan kartuku…&lt;br /&gt;Biar sudah terkoyak api, biar&lt;br /&gt;Terkuak bangkai terenggut kata, biar&lt;br /&gt;Berikan padaku…&lt;br /&gt;Kartu yang satu itu&lt;br /&gt;Kartu yang kau bilang biru&lt;br /&gt;Kartu yang malu&lt;br /&gt;Kartu yang lugu&lt;br /&gt;Kartu yang merah jambu&lt;br /&gt;Kartu yang itu&lt;br /&gt;Kartu yang begitu itu&lt;br /&gt;Biar ku simpan sendiri&lt;br /&gt;Dalam sekam diam ritual malam&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-4269568909026124752?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/4269568909026124752/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/berikan-kartuku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4269568909026124752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4269568909026124752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/berikan-kartuku.html' title='Berikan Kartuku'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-1742480417385007733</id><published>2009-06-10T22:53:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:55:24.169-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obrolan Sore'/><title type='text'>Kartini dan Kekuatan Literasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;oleh Arief Mahmudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira tidak ada yang tidak mengenal Kartini. Paling tidak, bila tidak mengenal secara dekat, pastilah tiap orang di negeri ini yang pernah mengenyam pendidikan dasar akan hafal lagu “Ibu Kita Kartini” atau sekurang-kurangnya pernah mendengar orang lain menyanyikan lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang sebenarnya membuat Kartini sangat terkenal? Jawabannya: karena ia adalah seorang pahlawan. Itu betul. Tapi mengapa Kartini disebut sebagai pahlawan, padahal sejarah tidak pernah mencatatnya sebagai wanita pejuang yang mengangkat senjata layaknya Cut Nyak Dien dan pahlawan-pahlawan wanita lainnya? Maka jawaban yang paling tepat adalah karena Kartini berjuang melawan diskriminasi terhadap kaum perempuan lewat tulisan-tulisannya. Ya, karena tulisan-tulisannya itulah Kartini kemudian dikenal sebagai sosok wanita pejuang negeri ini. Tulisan-tulisan Kartini yang dimaksud adalah 150 suratnya kepada Nyonya dan Tuan Abendanon, dua orang londo baik budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat-surat itu antara lain berisi gugatan terhadap kungkungan adat Jawa yang melanda kaum perempuan saat itu, seperti adat pingitan, perjodohan, pembatasan dalam kesempatan belajar, dan sebagainya. Pada tahun 1911 surat-surat tersebut diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Door Duisternis Tot Licht berkat penyusunan yang dilakukan oleh J.H. Abendanon. Pada tahun 1922, buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Lalu pada tahun 1938 diterbitkan kembali dengan format yang berbeda, dengan diterjemahkan oleh Armijn Pane, seorang sastrawan angkatan Pujangga Baru. Armijn Pane membagi kumpulan surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada pembaca akan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi. Dan untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti sebuah roman tentang kehidupan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, ada satu pesan yang hendak saya sampaikan di sini. Yaitu bahwa kekuatan literasi (baca-tulis) ternyata mampu menjadi alat perjuangan. Kartini memang mati muda—pada usia 25 tahun setelah melahirkan anak lelakinya, lebih muda dari penyair yang “mau hidup seribu tahun lagi”, Chairil Anwar yang mati ketika belum genap berusia 27 tahun—namun sumbangsihnya sangat nyata terhadap kondisi perempuan negeri ini, saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah mahasiswa jurusan PAI FITK semester 6&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-1742480417385007733?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/1742480417385007733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/kartini-dan-kekuatan-literasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/1742480417385007733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/1742480417385007733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/kartini-dan-kekuatan-literasi.html' title='Kartini dan Kekuatan Literasi'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-9090176066130017969</id><published>2009-06-10T22:38:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:42:53.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng Senja'/><title type='text'>Sang Imam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Kenyot Adisattva&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada iqamah hampir waktu tuk terlantun-kumandangkan. Jamaah sudah penuhi shaf dari yang terdepan hingga paling belakang. Tapi sang imam yang lewat 54 menit telah ditunggu tak jua kunjung tiba. Sementara ufuk barat kian menungu, kian menjingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kemana ini sebenarnya sang imam. Tidak biasa ia telat datang hingga sedemikiannya. Hari-hari sbelumnya kalaupun telat tak sampai segininya. Lama. Bosan jamaah menunggu. Oh sepertinya ia ditahan pak Bupati. Tadi ia disuruh menghadap. Lalu? Terpaksa ritual ashar harus tertunda. Tak telat. Tak ada yang telat hingga imam tiba. Tak ada yang berhak gantikan imam. Imam harus datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tak satupun orang dari jamaah berhak menjadi imam. Imam sudah dipilihkan. Nanti ia pasti datang. Sesuai ramalan. Ia memakai peci keemasan, di tangan genggam tongkat yang tak cukup panjang, mengendarai mobil warna putih berkilauan. Begitulah bunyi ramalan tentang sang imam hari ini. Imam yang bakal datang sebelum hari usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mencoba menawarkan diri. Merasa ini tak boleh dibiarkan. Ritual lebih mahal dari penantian. Apalah pentingnya seorang imam. Bukankah setiap orang adalah imam? Haha… mampus ia dimaki-maki. Jamaah lebih memilih menunggu sang imam. Tak ada yang mampu, mau, pun berhak menggantinya. Semua yakin imam pasti datang. Tiba seperti yang dijanjikan. Ya. Pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah telah menunggu. Sudah ada yang datang sebelum adzan tadi. Ini malah ada yang selesai shalat sunah sebanyak 20 rakaat. Di mana sang iamam? iyakah ia benar-benar akan datang? Beberapa jamaah mulai skeptis. Ada yang memilih pulang. Ada yang urungkan niat berjamaah. Tapi yang jelas tak ada yang berani memulai jamaah. Apa kata Primbon tak mungkin salah. Pilihannya mau menunggu, atau tidak sama sekali. Bagi kebanyakan, imam adalah orang yang sudah dipilih-tetapkan. Apapun yang terjadi imam harus ditunggu, dan pasti ia datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup pasti memimpin dan dipimpin. Memilih dan dipilih. Memilih sendiri atau dipilihkan. Adakah selain dari pada itu? Adapun pasti mudah dikatakan. Enak dan sangat ringan; itu adalah pengecualian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua memilih untuk dipimpin. Semua memilih untuk memilih. Semua memilih untuk dipilihkan. Beginilah jamaah. Bukan hanya hari ini. Ini juga yang terlanjur tertanam semenjak generasi leluhur. Turun temurun. Tertanam dalam-dalam pada benak. Jika ada yang terombak dari otak dan rasa pada satu dua orang jamaah, lalu ia berkata yang terjadi selama ini adalah kesalahan, maka justru ia yang dianggap salah. Karena jamaah tidak mungkin salah. Orang banyak dalam teori terpercaya tak pernah menyesepakati sebuah kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kian bergulir. Hampir habis waktu ashar. Matahari mulai tak terlihat angkuh lagi. Justru ia telah menjadi seperti seorang putri manis rupa. Sementara imam yang ditunggu belum juga datang. Tapi pasti  datang! Yakin, pasti sang imam datang sebelum maghrib nanti.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-9090176066130017969?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/9090176066130017969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/sang-imam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/9090176066130017969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/9090176066130017969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/sang-imam.html' title='Sang Imam'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3283401924763916578</id><published>2009-06-10T22:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:15:11.126-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Delman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Abraham Zakky&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;Salman, adikku yang sedang kecanduan delman&lt;br /&gt;mengingatkanku pada sebuah perjamuan beku&lt;br /&gt;: tampaknya ada yang coba jadi kusir bagi mimpiku&lt;br /&gt;namun maaf, aku sedang belajar&lt;br /&gt;jadi kuda binal yang tak terlalu liar&lt;br /&gt;biarkan aku menemu padang rumputku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangkujayan, 18 Januari 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3283401924763916578?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3283401924763916578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/delman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3283401924763916578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3283401924763916578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/delman.html' title='Delman'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-6392337913690527226</id><published>2009-06-10T22:12:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:14:00.929-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Menemu Keabadian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Nadd Chafsin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenalkan aku pada bait-bait cinta&lt;br /&gt;di antara puing-puing hati&lt;br /&gt;biarkan aku tetap bersandar&lt;br /&gt;pada tiang yang hampir roboh;&lt;br /&gt;aku ingin temukan keabadian di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-6392337913690527226?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/6392337913690527226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/menemu-keabadian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6392337913690527226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6392337913690527226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/menemu-keabadian.html' title='Menemu Keabadian'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-8620641762309477081</id><published>2009-06-10T22:09:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:11:55.128-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Antara Aku dan Orang Asing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Kenyot Adisattva&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang asing itu&lt;br /&gt;berjaga siang&lt;br /&gt;terjaga malam&lt;br /&gt;terbata-bata&lt;br /&gt;berteriak mencibirhujat:&lt;br /&gt;Nenekku sesat,&lt;br /&gt;Nenekku penjahat,&lt;br /&gt;Nenekku pengkhianat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang asing bilang&lt;br /&gt;ia datang bawa keselamatan.&lt;br /&gt;Aku bilang:&lt;br /&gt;Aku jadi seperti nenekku saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sedang menganyam tirai api&lt;br /&gt;karena tak ikut itu orang asing berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu, buatnya:&lt;br /&gt;Itu untuk-ku !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu, buatku:&lt;br /&gt;Jelas itu bukan untuk nenekku !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-8620641762309477081?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/8620641762309477081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/antara-aku-dan-orang-asing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8620641762309477081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8620641762309477081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/antara-aku-dan-orang-asing.html' title='Antara Aku dan Orang Asing'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3273899370103330640</id><published>2009-06-10T22:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-13T03:43:48.717-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Fragmen</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Hasyim Zain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;Anak berkantung plastik bekas&lt;br /&gt;lahir di ruang tanpa berkas&lt;br /&gt;berkelahi dengan dunia keras&lt;br /&gt;bernyanyi bebas&lt;br /&gt;berteriak lepas&lt;br /&gt;tersengat matahari: panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak berkantung plastik bekas&lt;br /&gt;berlari mengejar cakrawala&lt;br /&gt;menjual karya&lt;br /&gt;bukan meminta,&lt;br /&gt;karyanya tak diharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak berkantung plastik bekas,&lt;br /&gt;menembus malam&lt;br /&gt;di bawah kolong jembatan&lt;br /&gt;berkawan kelam&lt;br /&gt;tak punya harapan&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3273899370103330640?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3273899370103330640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/fragmen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3273899370103330640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3273899370103330640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/fragmen.html' title='Fragmen'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-8096134425673186623</id><published>2009-06-10T22:03:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:09:09.399-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obrolan Sore'/><title type='text'>UIN Dan Cerpen</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Abraham Zakky Zulhazmi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari terakhir ini saya jadi begitu akrab dengan cerpen. Sebab kebetulan Komunitas KETIK, komunitas penulis yang sempat saya dirikan di Solo, memperingati HUT Kota Solo yang ke-264 dengan menggelar Lomba Menulis Cerpen ‘Solo Kotaku, Jawa Budayaku’. Lomba untuk pelajar SMP dan SMA se-Solo itu mendapat apresiasi hangat dari publik pelajar Kota Solo. Tercatat 50 cerpen menumpuk di meja panitia sampai hari terakhir pengumpulan karya. Angka yang cukup menggembirakan di tengah duka Kota Solo yang ditimpa bencana banjir kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 50 cerpen yang masuk, sangat bisa menghadirkan optimis besar dalam hati saya. Mengingat di usia belia, teman -teman kita itu telah mampu meramu cerpen-cerpen yang menggugah. Terlebih tema yang harus mereka garap tak bisa dibilang mudah. Meski beberapa cerpen lain belum menunjukkan sebuah progresifitas yang memadai, yang layak diapresiasi tentunya adalah semangat berkarya mereka yang tak mudah padam. Keinginan Komunitas KETIK untuk membukukan karya para juara dalam sebuah antologi cerpen sangat kontributif sekali saya kira. Sebuah langkah konkret untuk menjaga nyala terang ruang sastra pelajar Kota Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan UIN Jakarta? Di mana cerpen-cerpen mahasiswanya? Jujur, saya jarang menemui. Mungkin saya yang malas mengunjungi ruang-ruang sastra atau mungkin memang cerpenis-cerpenis kampus Ciputat ini masih tertidur dan belum ada yang membangunkan. Lantas, keberadaan komunitas-komunitas sastra semisal FLP, Kampoeng Seni, Senjakala dan yang lain di kampus ini sudah sejauh apa peranannya? Taring mahasiswa-mahasiswa Fakultas Adab (adab bermakna sastra, bukan?) juga belum saya lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya komunitas tersebut tidak berhenti pada diskusi sastra belaka ataupun hanya terfokus pada sastra panggung (teater dan pembacaan puisi). Kegiatan pendokumentasian karya sastra (cerpen) dalam bentuk buku atau buletin harus mulai digagas dan kemudian direalisasikan. Mahasiswa berdisiplin ilmu sastra juga jangan melulu berlalu lalang di ranah teoritis. Di akhir tulisan ini saya teringat sms Zawawi Imron yang dikirim kepada saya tadi malam: pendokumentasian karya berguna untuk melihat tinggi dan rendahnya mutu pemikiran pada saat karya itu ditulis. Pada zaman yang minus karya sastra pertanda tidak ada pemikiran kreatif. Joni Ariadinata juga berpesan lewat sms: tanpa dokumentasi sastra, sejarah berhenti dan budaya akan mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah mahasiswa KPI FDK semester 2.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-8096134425673186623?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/8096134425673186623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/uin-dan-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8096134425673186623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8096134425673186623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/uin-dan-cerpen.html' title='UIN Dan Cerpen'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-7025185353337023287</id><published>2009-06-10T22:01:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:02:48.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng Senja'/><title type='text'>Gambar Caleg</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Amelia Fitriani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuuush! Angin dini hari menerbangkan debu-debu di jalan Cilibende Bogor tatkala sebuah sepeda motor melaju kencang. Debu-debu itu kemudian menempel di poster-poster caleg DPRD Kota Bogor yang dipasang tepat di sebelah kampus Diploma IPB. Terhitung ada empat poster di sana.&lt;br /&gt;Detik yang merambat mengisyaratkan bahwa waktu telah melampui pukul satu dini hari. Dinginya kota Bogor jadi saksi, empat poster caleg saling menghujat satu sama lain. Dimulai oleh caleg Partai Ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, bagaimana kalian mau menang pemilu, pasang poster kecil-kecil begitu. Contohlah aku!” ujarnya pongah. Ukuran posternya memang lebih besar dari yang lain. Posenya tampak berwibawa dengan setelan jas hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ini kan partai besar, wajarlah jika danamu cukup untuk membuat poster sebesar itu,” komentar caleg Partai Angsa, caleg perempuan yang berpose dengan kepalan tangan ke atas bak pejuang kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya dananya besar, tapi perlu diragukan kehalalannya!” sindir caleg Partai Bebek yang merupakan adik kelas caleg Partai Ayam semasa kuliah.&lt;br /&gt;“Apa maksud ucapan kau, hah?! Jelaslah danaku halal, partaiku besar, akupun anggota legislatif periode kemarin yang tanpa skandal. Sembarang ucap kau punya mulut!” caleg Partai Ayam geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poster caleg Partai Bebek dengan senyum renyah serupa coverboy berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alaaah! Munafik sekali kamu ini. Kamu memang anggota legislatif tapi tak lebih profesional dari tukang becak. Tidur saja kerjamu di kursi empuk itu. Jika tidak karena korupsi tak mungkin kau bisa beli banyak rumah, empat mobil high class dan sekolahkan anak-anakmu ke luar negeri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang ajar! Lantas kau pikir kau lebih baik dari aku? Memangnya aku tidak tahu, ijazah sarjanamu itu aspal, asli tapi palsu. Tak pantas kau  jadi caleg!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah! Sudah! Pusing aku lihat kalian saling hujat! Indonesia tak kan maju jika caleg-calegnya seperti kalian,” caleg Partai Angsa coba melerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ketiga pesaingnya hujat menghujat, caleg Partai Itik, yang posenya seperti pose di KTP hanya bungkam. Matanya nanar menatap jalanan yang lengang. Terbayang hutangnya di bank yang lebih dari 50 juta untuk membiayai kampanye ini. Sebentar kemudian sebuah truk lewat. Menerbangkan debu-debu yang lantas menempel di poster caleg-caleg itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah mahasiswi semester 2 jurusan HI FEIS&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-7025185353337023287?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/7025185353337023287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/gambar-caleg.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7025185353337023287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/7025185353337023287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/gambar-caleg.html' title='Gambar Caleg'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-6558776095685277878</id><published>2009-06-10T21:36:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T21:39:03.303-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Cemas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Nadd Chafsin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemas&lt;br /&gt;Aku cemas&lt;br /&gt;Cemaskah ??&lt;br /&gt;Bagaimana cemas ?&lt;br /&gt;Aku cemaskan dirinya&lt;br /&gt;Mencemaskan apa yang terjadi&lt;br /&gt;Kecemasan yang hampir tak beralasan&lt;br /&gt;Namun tetap cemas ini rajai hati&lt;br /&gt;Kecemasan yang menggila&lt;br /&gt;Bagaimana cemas ?&lt;br /&gt;Cemaskah ??&lt;br /&gt;Aku cemas&lt;br /&gt;Cemas&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-6558776095685277878?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/6558776095685277878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/cemas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6558776095685277878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/6558776095685277878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/cemas.html' title='Cemas'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-3118887211857197089</id><published>2009-06-10T21:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T21:39:53.785-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Biarkan Aku Tertawa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Kenyot Adisattva&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin tertawa&lt;br /&gt;Tertawa lepas&lt;br /&gt;Selepas isak tangis yang pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menegur&lt;br /&gt;Teguran keras&lt;br /&gt;Sekeras dentuman petir minggu lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar aku tertawa&lt;br /&gt;Sedang kau asyik berteriak&lt;br /&gt;Mencucu gendang telingaku&lt;br /&gt;Dengan mata tombak umpatanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mukaku&lt;br /&gt;Ludahmu deras menghujam&lt;br /&gt;Rudal pelotot matamu&lt;br /&gt;Meledak di isi dadaku&lt;br /&gt;Tapi biarkan aku tertawa&lt;br /&gt;Selagi aku bisa&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-3118887211857197089?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/3118887211857197089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/biarkan-aku-tertawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3118887211857197089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/3118887211857197089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/biarkan-aku-tertawa.html' title='Biarkan Aku Tertawa'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-4542874936665206476</id><published>2009-06-10T21:33:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T21:40:56.929-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Jingga'/><title type='text'>Kabar Dari Taman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh Hasyim Zain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamanku kini tak seramai dulu&lt;br /&gt;tak ada kupu-kupu&lt;br /&gt;yang mau menyanyi di atas mawarku&lt;br /&gt;dengan merdu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pergi&lt;br /&gt;meninggalkan mawarku yang berduri&lt;br /&gt;walau telah ku lumuri wangi kasturi&lt;br /&gt;ia tetap saja tak dihinggapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semerah darah&lt;br /&gt;mawarku mengundang lebah&lt;br /&gt;tapi lebah&lt;br /&gt;datang dengan tak ramah&lt;br /&gt;menghisap madu&lt;br /&gt;membuat mawarku layu&lt;br /&gt;dan tak sesyahdu dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kumbang beryanyi di balik ilalang&lt;br /&gt;menghibur mawarku yang harumnya hilang&lt;br /&gt;entah akan berapa lama ia berlalu lalang&lt;br /&gt;di tamanku yang nasibnya malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Jakarta, 12 Januari 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-4542874936665206476?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/4542874936665206476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/kabar-dari-taman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4542874936665206476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/4542874936665206476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/kabar-dari-taman.html' title='Kabar Dari Taman'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-8797653649903167049</id><published>2009-06-10T20:17:00.001-07:00</published><updated>2009-06-10T21:51:18.420-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obrolan Sore'/><title type='text'>Sastra Merdeka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Kenyot Adisattva&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang adalah seniman,&lt;br /&gt;Dimana pun ia berada di situlah panggungnya.&lt;br /&gt;Dan setiap orang pasti mempunyai karya.&lt;br /&gt;(Mbah Surip)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah tradisi bersastra di Nusantara, sastra  lahir dan berkembang di lingkumgam elit. Bahkan pada masa kerajaan-kerajaan dulu hampir dapat dipastikan sastrawan (pujangga) adalah mereka dari golongan priyayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralihan dari zaman kerajaan ke zaman modern ternyata tidak merubah tradisi bersastra. Sastra masih tetap saja lahir dari rahim elitis dan intelektualis. Hal ini ternyata berakibat kekakuan pada karya-karya sastra. Karena lahir dari golongan elitis dan intelektualis sastra menjadi makhluk yang misterius, membingungkan, dan tidak menarik bagi golongan awam. Selama ini penggiat sastra dalam menciptakan karya sastra selalu dengan keseriusan yang berlebihan, bahkan dengan tirakat-tirakat serta perenungan yang bertubi-tubi. Keseriusan itu perlu dan baik memang. Hasilnya pun pasti akan memuaskan. Akan tetapi tidaklah bijak bila akhirnya karya sastra hanya bisa dibaca dan difahami oleh orang-orang tertentu. Bila seperti ini kejadiannya yang menjadi buruk adalah sastra tidak menjadi karya yang populis dan demokratis, justru karya sastra seakan menjadi wadah dari kesombongan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesombongan yang ada akan lebih buruk lagi jika tidak memberi ruang bagi kaum awam. Itu yang terjadi. Buruk. Golongan non elitis non intelektualis seakan tidak diperbolehkan berekspresi menuangkan idenya dalam karya sastra. Ketika terlahir karya sastra dari kaum awam, maka karya tersebut tidak mendapatkan apresiasi positif, dianggap bukan karya sastra dan menyalahi kaedah kesusastraan. Padahal seharusnya sastra memberi ruang kepada siapa saja untuk dapat serta menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat menarik apa yang dilakukan Sutardji Calzoum Bachri. Ia mencoba memerdekakan kata dari makna. Ia kembalikan kata untuk menjadi dirinya sendiri. Pada keasliannya kata adalah mantera. Biarlah kata ada dan berada tanpa harus menggendong beban. Hal ini memang tidak terbukti memberi ruang bagi kaum awam untuk turut serta dalam dunia sastra, tapi setidaknya akan menjadi kampanye kemerdekaan sastra. Sudah saatnya sastra dimerdekakan dari kungkungan keseriusan yang sepaneng. Momen awal tahun di penghujung dasawarsa ini semoga menjadi awal kebangkitan. Saatnya sastra bisa muncul dan dinikmati dari dan oleh siapa pun juga. Jadikan sastra ruang untuk setiap orang bisa berkarya. Nantinya sastra akan menjadi ruang ekspresi bagi semua kalangan tanpa hirarki seperti yang selalu dibawa-bawa Mbah Surip dalam orasi-orasinya “Setiap orang adalah seniman. Dimana pun ia berada di situlah panggungnya. Dan setiap orang pasti mempunyai karya. Ha..ha..ha..ha..”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-8797653649903167049?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/8797653649903167049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/sastra-merdeka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8797653649903167049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/8797653649903167049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/sastra-merdeka.html' title='Sastra Merdeka'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2711645478038591524.post-5397488042528767698</id><published>2009-06-10T20:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T21:52:48.479-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng Senja'/><title type='text'>Tiga Suara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Abraham Zakky Zulhazmi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kotak mampu menampung seratus suara. Telah terisi sembilan puluh tujuh suara. Tiga suara lagi kotak itu penuh. Malaikat pun akan membawanya ke langit ke tujuh. Dihaturkan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Khi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pernah takut pada perubahan? Aku pernah. Kemarin hari. Saat An bilang telah memilih Nat. Sebagai rindunya. Padahal kami telah jadi tiga serangkai, sukar dicerai. Aku lantas membodoh-bodohkan An. Jatuh hati kenapa harus dengan sahabat sendiri?! Tapi, rasa-rasanya aku sendiri yang bodoh. Bukankah Tuhan tak pernah menciptakan cinta terlarang. Pun begitu, pasti akan ada yang berubah, berbeda dan hilang. Kalau benar jadi berpacaran, jalan berdua tentu lebih yahud daripada jalan bertiga. Nonton berdua pasti lebih top markotop. Bergandeng tangan. Mengembunkan angin. Menganginkan embun. Hmff, entah nelangsa atau prasangka yang kini mendominasi ruang gelisahku. An, bohongi sajalah hatimu itu! Nat, kenapa kau punya dada bidang dan selalu rapi jali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara An.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khi itu very very stupid! Masak gue disuruh bohong sama hati gue sendiri. Tolol kan? Secara, gue juga wanita yang punya rasa cinta. Sah-sah aja kan gue jatuh cinta dengan siapapun. Termasuk kepada Nat! Gue jadi curiga, jangan-jangan Khi itu lelaki pengecut yang takut kehilangan teman, jangan-jangan temannya cuma gue sama Nat. Tapi, meski nantinya gue jadian dengan Nat, gue janji kok Khi tetap jadi bagian dari kami bertiga. Ih… kenapa ya tadi Khi over banget ngelarang gue. Apa mungkin dia juga suka sama gue? Bodo! Duhai Nat, sang pangeran berkuda putih, dengarkanlah kidung-kidung rindu ini, lalu biarkan aku rebah di bidang dadamu. Bawa aku kemana pun kau mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Nat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jomblo bagi saya sebenarnya bukan masalah. Tapi kalau teman-teman di kos terus menyudutkan saya dengan ejekan ‘jomblo berarti nggak laku’ panas juga hati saya. Apalagi dari empat orang penghuni kos, hanya saya yang belum punya cewek. Setiap cewek mereka main ke kos, saya cuma bisa menelan ludah dan mengurut dada. Ustadz saya dulu pernah berpesan, jangan pacaran sebelum kuliah selesai, nasihat itu yang terus saya pegang. Toh saya punya Khi dan An, dua sobat yang sudah saya anggap saudara sendiri. Namun, entah mengapa tadi pagi An tampak anggun sekali. Sedangkan Khi tak lagi mengasyikkan diajak ngobrol!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kotak penuh. Tapi sayang, sayap malaikat nyangkut di tali jemuran. Kena paku. Berdarah. Kotak terlambat sampai di langit ketujuh. Tuhan ngambek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2711645478038591524-5397488042528767698?l=buletinsastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletinsastra.blogspot.com/feeds/5397488042528767698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/tiga-suara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5397488042528767698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2711645478038591524/posts/default/5397488042528767698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletinsastra.blogspot.com/2009/06/tiga-suara.html' title='Tiga Suara'/><author><name>sesaji sore hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13195553007106925866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zJodK5Xc0OQ/SjCFdVpt7ZI/AAAAAAAAABI/yy2VISey4w0/S220/teh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
